SANAA – Tentara Yaman menembak tewas dua demonstran dan melukai sedikitnya sembilan orang lainnya dalam unjuk rasa di provinsi Amran, kemarin.
“Dua demonstran tewas dan sembilan orang lainnya terluka saat tentara menembak dari posisi militer ke arah pengunjuk rasa yang mendesak Presiden Ali Abdullah Saleh mundur,” papar pemimpin oposisi.
Penembakan itu dilakukan sehari setelah oposisi dan pemimpin agama menawarkan pada Saleh cara termulus untuk melepas kekuasaan pada akhir 2011. Serangan brutal terjadi di desa Semla, 170 kilometer dari ibu kota Sanaa.
Kejadian ini dilaporkan di portal berita oposisi almenpar.net. “Tentara membunuh dan melukai puluhan orang saat mereka menembaki demonstran dari posisi di Semla,” tulis laman tersebut.
Demonstran berkumpul di jalanan dekat kota Harf Sufyan untuk mengkritik korupsi dan mendesak perubahan rezim setelah 30 tahun pemerintahan Saleh. Menurut data yang dikumpulkan kantor berita AFP, rezim diguncang gelombang unjuk rasa yang telah menewaskan sedikitnya 19 orang sejak 16 Februari.
Protes anti rezim ini terinspirasi revolusi di Mesir dan Tunisia yang berhasil memaksa mundur dua pemimpinnya, Hosni Mubarak dan Zine El Abidine Ben Ali. Pekan lalu, Presiden Yaman bertekad mempertahankan tiga dekade pemerintahannya dengan setiap tetes darah. Dia menuduh lawan-lawan politiknya menunggangi demonstran untuk memecah belah bangsa.
Sementara di Bahrain, enam kelompok oposisi, termasuk blok Syiah di parlemen, menetapkan syarat-syarat untuk dialog. Beberapa syarat itu ialah pemilihan majelis konstitusional untuk menyusun konstitusi baru.
“Pemerintah harus mengumumkan bahwa mereka telah menerima empat prinsip dalam pembukaan dialog, sebelum membicarakan ke yang lebih rinci,” tegas juru bicara oposisi, kemarin. “Syarat-syarat itu antara lain pencabutan konstitusi 2002 dan pembentukan majelis konstitusional untuk menulis undang-undang dasar yang baru. Rakyat harus memiliki hak untuk memilih parlemen dengan kekuasaan legislatif penuh. Syarat terakhir ialah jaminan hasil dialog diaplikasikan dan dihormati.”
Syarat-syarat itu disusun oleh enam kelompok politik, termasuk blok oposisi berpengaruh, Shiite Islamic National Accord Association (INAA). Mereka menegaskan perlunya monarkhi konstitusional sebenarnya di Bahrain.
Gelombang unjuk rasa ini mengguncang dinasti Sunni Al-Khalifa yang memerintah negara mayoritas Syiah selama lebih 200 tahun. Unjuk rasa di Bahrain dimulai pada 14 Februari silam.
Di Suriah, para aktivis mendesak reformasi politik menjadi prioritas utama gerakan revolusi. “Kita perlu menyepakati penyusunan konstitusi baru, yang sesuai dengan masyarakat Suriah, melibatkan semua gerakan,” papar Ayman Abdel Nour, editor laman oposisi All4Syria yang berbasis di Dubai.
Kelompok HAM secara rutin mengecam kontrol ketat civil society melalui penahanan sewenang-wenang, pembatasan kebebasan berekspresi, dan bentuk represi lainnya.
Partai Baath berkuasa di Suriah sejak 1963 dan menerapkan undang-undang keadaan darurat yang memberi kekuasaan besar pada pasukan keamanan dan pengadilan, serta melarang semua oposisi dan demonstrasi. (AFP/Rtr/syarifudin)
Cari di Sini
Jumat, 04 Maret 2011
Rabu, 02 Maret 2011
Pasukan Khadafi dan Pemberontak Saling Klaim Kuasai Brega
TRIPOLI (SINDO)- Pasukan pendukung Pemimpin Libya Muammar Khadafi berhasil mengontrol bandara dan pelabuhan di Marsa El Brega, kemarin, setelah bertempur melawan pemberontak.
Laporan televisi pemerintah itu berbeda dengan pernyataan pemberontak bahwa serangan pasukan rezim itu berhasil dipukul mundur. Pertempuran itu terjadi seiring pengerahan dua kapal perang Amerika Serikat menuju Mediterranea.
“Pasukan pemerintah hanya sebentar menguasai Marsa El Brega, terminal eksport minyak, sebelum dipukul mundur oleh pemberontak yang mengontrol kota yang terletak 800 kilometer timur Tripoli selama sepekan,” papar pemberontak.
Penduduk Brega, 200 kilometer baratdaya kota Benghazi, melalui telepon menjelaskan, pasukan Khadafi menyerang kota itu dengan tank-tank dan artileri berat. Pertempuran sengit pun pecah di pelabuhan.
“Pesawat tempur Libya juga melancarkan serangan udara di Ajdabiya, 40 kilometer dari Brega, menargetkan sebuah gudang persenjataan atau sebuah pangkalan militer yang dikuasai pasukan oposisi,” papar warga Brega.
Menurut para pemimpin pemberontak yang menguasai kota Ajdabiya, setelah pertempuran sengit yang menewaskan dua orang, pasukan Khadafi ditarik mundur. “Brega kini dalam kontrol sepenuhnya revolusi. Orang-orang dari Ajdabiya datang membantu,” papar seorang jenderal polisi di Ajdabiya yang menolak disebutkan namanya.
Mehdi Suleiman Hussein, seorang pejuang dari Ajdabiya menjelaskan, pasukan Khadafi tiba di Brega dan bertempur. “Tapi kini mereka ditarik mundur. Beberapa orang masih bertempur melawan pemberontak,” paparnya.
Menghadapi tekanan dari pemberontak yang menguasai berbagai wilayah Libya, Khadafi kemarin menegaskan bahwa dia bukan presiden sehingga tidak dapat mundur dari posisinya. Khadafi juga menyatakan tidak ada masalah internal di Libya.
“Muammar Khadafi bukan seorang presiden yang bisa mundur, dia tidak memiliki parlemen untuk dibubarkan. Saya tidak memiliki posisi untuk mundur darinya. Sistem Libya itu sistem rakyat dan tidak seorang pun dapat melawan otoritas rakyat. Rakyat bebas memilih otoritas yang mereka anggap baik,” tegas Khadafi.
Juru bicara UNHCR Sybella Wilkes menjelaskan pada kantor berita AFP di Jenewa, situasi di perbatasan Libya-Tunisia sangat mengerikan. “Kolega saya di lapangan menyatakan, berhektar-hektar lahan berisi manusia, sejauh yang bisa Anda lihat, menunggu untuk melintas,” tuturnya.
“Mereka di luar dalam suhu membeku, kehujanan, dan banyak dari mereka sudah bermalam tiga hingga empat hari di luar sana,” kata Wilkes.
Lebih dari 100.000 orang telah meninggalkan Libya untuk menghindari perang sipil yang terjadi antara pendukung dan penentang Khadafi. Sejauh ini korban tewas sedikitnya 1.000 jiwa.
UNHCR mengusulkan agar ratusan pesawat dikerahkan untuk mengatasi krisis pengungsi di perbatasan Tunisia. “Di sana ada sebuah gedung besar dan ada ribuan orang dibaliknya,” papar Wilkes. “Ini benar-benar kacau. Di Mesir kita memiliki 77.320 orang yang telah melintas. Jumlah yang sama telah melintas ke Tunisia, sekitar lebih dari 10.000 orang. Jadi kita menyaksikan lebih dari 150.000 orang telah pergi menuju dua negara itu.”
Sementara itu, dua kapal perang AS, USS Kearsarge dan USS Ponce yang membawa marinir dan perlengkapan tempur, memasuki Terusan Suez, kemarin pagi. Kedua kapal itu diperkirakan memasuki Mediterranea pada malam hari.
Kearsarge berisi pasukan amphibi dengan 800 marinir, satu armada helikopter dan fasilitas medis, dapat membantu upaya kemanusiaan serta operasi militer. “Kami tentu saja menggerakkan aset-aset untuk mendekat Libya. Kapal seperti Kearsage mampu melakukan banyak jenis misi,” ujar pejabat pertahanan AS di Washington.
Saat ini negara-negara Barat sedang adu argumen tentang ide zona larangan terbang di atas Libya, untuk mendukung pemberontak melawan rezim Khadafi. Sejumlah tokoh oposisi di Libya juga mulai menyerukan serangan udara oleh militer asing.
Anggota NATO berbeda sikap tentang pengerahan misi udara untuk mengawasi angkasa Libya karena khawatir membuat marah negara-negara Arab. AS dan Inggris mendukung pemberlakukan zona larangan terbang. Menurut Inggris, tidak perlu mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pemberlakuan zona larangan terbang. Tapi Prancis menganggap setiap bentuk aksi militer memerlukan dukungan PBB.
“Saya tidak tahu apa reaksi Arab, jika warga Arab di sekitar Mediterranea melihat pasukan NATO mendarat di kawasan selatan Mediterranea. Sya pikir itu dapat menjadi sangat kontra-produktif,” tegas Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe.
Turki yang juga anggota NATO dan mayoritas Muslim, menolak ide aksi militer di Libya. Menurut Turki, NATO hanya dapat intervensi saat salah satu negara anggotanya diserang. “Ini akan mustahil. NATO tidak memiliki urusan di sana. Kita menentang skenario semacam itu. Seperti sesuatu yang tidak dapat dipikirkan,” tegas Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan saat mengunjungi Jerman pekan ini. (syarifudin)
Laporan televisi pemerintah itu berbeda dengan pernyataan pemberontak bahwa serangan pasukan rezim itu berhasil dipukul mundur. Pertempuran itu terjadi seiring pengerahan dua kapal perang Amerika Serikat menuju Mediterranea.
“Pasukan pemerintah hanya sebentar menguasai Marsa El Brega, terminal eksport minyak, sebelum dipukul mundur oleh pemberontak yang mengontrol kota yang terletak 800 kilometer timur Tripoli selama sepekan,” papar pemberontak.
Penduduk Brega, 200 kilometer baratdaya kota Benghazi, melalui telepon menjelaskan, pasukan Khadafi menyerang kota itu dengan tank-tank dan artileri berat. Pertempuran sengit pun pecah di pelabuhan.
“Pesawat tempur Libya juga melancarkan serangan udara di Ajdabiya, 40 kilometer dari Brega, menargetkan sebuah gudang persenjataan atau sebuah pangkalan militer yang dikuasai pasukan oposisi,” papar warga Brega.
Menurut para pemimpin pemberontak yang menguasai kota Ajdabiya, setelah pertempuran sengit yang menewaskan dua orang, pasukan Khadafi ditarik mundur. “Brega kini dalam kontrol sepenuhnya revolusi. Orang-orang dari Ajdabiya datang membantu,” papar seorang jenderal polisi di Ajdabiya yang menolak disebutkan namanya.
Mehdi Suleiman Hussein, seorang pejuang dari Ajdabiya menjelaskan, pasukan Khadafi tiba di Brega dan bertempur. “Tapi kini mereka ditarik mundur. Beberapa orang masih bertempur melawan pemberontak,” paparnya.
Menghadapi tekanan dari pemberontak yang menguasai berbagai wilayah Libya, Khadafi kemarin menegaskan bahwa dia bukan presiden sehingga tidak dapat mundur dari posisinya. Khadafi juga menyatakan tidak ada masalah internal di Libya.
“Muammar Khadafi bukan seorang presiden yang bisa mundur, dia tidak memiliki parlemen untuk dibubarkan. Saya tidak memiliki posisi untuk mundur darinya. Sistem Libya itu sistem rakyat dan tidak seorang pun dapat melawan otoritas rakyat. Rakyat bebas memilih otoritas yang mereka anggap baik,” tegas Khadafi.
Juru bicara UNHCR Sybella Wilkes menjelaskan pada kantor berita AFP di Jenewa, situasi di perbatasan Libya-Tunisia sangat mengerikan. “Kolega saya di lapangan menyatakan, berhektar-hektar lahan berisi manusia, sejauh yang bisa Anda lihat, menunggu untuk melintas,” tuturnya.
“Mereka di luar dalam suhu membeku, kehujanan, dan banyak dari mereka sudah bermalam tiga hingga empat hari di luar sana,” kata Wilkes.
Lebih dari 100.000 orang telah meninggalkan Libya untuk menghindari perang sipil yang terjadi antara pendukung dan penentang Khadafi. Sejauh ini korban tewas sedikitnya 1.000 jiwa.
UNHCR mengusulkan agar ratusan pesawat dikerahkan untuk mengatasi krisis pengungsi di perbatasan Tunisia. “Di sana ada sebuah gedung besar dan ada ribuan orang dibaliknya,” papar Wilkes. “Ini benar-benar kacau. Di Mesir kita memiliki 77.320 orang yang telah melintas. Jumlah yang sama telah melintas ke Tunisia, sekitar lebih dari 10.000 orang. Jadi kita menyaksikan lebih dari 150.000 orang telah pergi menuju dua negara itu.”
Sementara itu, dua kapal perang AS, USS Kearsarge dan USS Ponce yang membawa marinir dan perlengkapan tempur, memasuki Terusan Suez, kemarin pagi. Kedua kapal itu diperkirakan memasuki Mediterranea pada malam hari.
Kearsarge berisi pasukan amphibi dengan 800 marinir, satu armada helikopter dan fasilitas medis, dapat membantu upaya kemanusiaan serta operasi militer. “Kami tentu saja menggerakkan aset-aset untuk mendekat Libya. Kapal seperti Kearsage mampu melakukan banyak jenis misi,” ujar pejabat pertahanan AS di Washington.
Saat ini negara-negara Barat sedang adu argumen tentang ide zona larangan terbang di atas Libya, untuk mendukung pemberontak melawan rezim Khadafi. Sejumlah tokoh oposisi di Libya juga mulai menyerukan serangan udara oleh militer asing.
Anggota NATO berbeda sikap tentang pengerahan misi udara untuk mengawasi angkasa Libya karena khawatir membuat marah negara-negara Arab. AS dan Inggris mendukung pemberlakukan zona larangan terbang. Menurut Inggris, tidak perlu mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk pemberlakuan zona larangan terbang. Tapi Prancis menganggap setiap bentuk aksi militer memerlukan dukungan PBB.
“Saya tidak tahu apa reaksi Arab, jika warga Arab di sekitar Mediterranea melihat pasukan NATO mendarat di kawasan selatan Mediterranea. Sya pikir itu dapat menjadi sangat kontra-produktif,” tegas Menteri Luar Negeri Prancis Alain Juppe.
Turki yang juga anggota NATO dan mayoritas Muslim, menolak ide aksi militer di Libya. Menurut Turki, NATO hanya dapat intervensi saat salah satu negara anggotanya diserang. “Ini akan mustahil. NATO tidak memiliki urusan di sana. Kita menentang skenario semacam itu. Seperti sesuatu yang tidak dapat dipikirkan,” tegas Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan saat mengunjungi Jerman pekan ini. (syarifudin)
Saleh Tuding AS Hasut Demonstran
SANAA (SINDO)- Massa memenuhi jalanan ibu kota Yaman, Sanaa, kemarin, dalam unjuk rasa terbesar menentang Presiden Ali Abdullah Saleh. Aksi itu membuat Saleh semakin berang dan menuduh Israel dan Amerika Serikat (AS) sebagai penghasut demonstran.
Saleh lantas memecat lima gubernur provinsi yang menjadi basis unjuk rasa anti pemerintah, sebagian besar di bekas Yaman Selatan. Pengumuman resmi menyatakan, Saleh memecat gubernur Aden, Lahij, dan Abyan di selatan, serta Hadramut di tenggara dan Hudayda di barat.
“Setiap hari kita mendengar pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang berbunyi, Mesir jangan lakukan ini, Tunisia jangan lakukan itu. Apa yang telah dilakukan Obama pada Oman, apa yang telah dilakukannya pada Mesir? Anda presiden AS,” tegas Saleh.
Musuh-musuh Saleh berkumpul sejak kemarin pagi di jalanan menuju lapangan dengan Sanaa University, tempat mahasiswa dan demonstran anti pemerintah membangun kamp selama lebih dari sepekan. “Rakyat ingin Ali Abdullah Saleh pergi. Rakyat ingin menggulingkan rezim,” teriak demonstran.
Banyak pengunjuk rasa yang mengenakan kain putih bertuliskan, “Hidup bahagia atau mati sebagai martir.” Oposisi menegaskan, setengah juta orang turun ke jalan, meski koresponden AFP menyatakan jumlah tersebut terlalu dibesar-besarkan.
“Sejak kami menduduki lapangan dekat universitas Sanaa, kami belum pernah melihat jumlah sebanyak ini,” kata salah seorang penggerak unjuk rasa Hashem al-Sufy.
Sedangkan Kongres Rakyat Umum menyatakan jumlah massa di Lapangan Tahrir, Yaman, mencapai 1,5 juta jiwa. Seorang koresponden menjelaskan, ada perbedaan jumlah pengunjuk rasa.
Beberapa tokoh oposisi ikut berpidato, termasuk ulama terkenal Abdul Majeed al-Zendani, yang disebut sebagai teroris global oleh Washington. “Gerakan protes yang terjadi di dunia Arab merupakan pengubah rezim yang baru, efektif, cepat, dan tidak merusak,” katanya.
Sementara di Oman, tank-tank dikerahkan pemerintah untuk membubarkan blokade demonstran di pelabuhan kota industri Sohar dan jalan pantai menuju Muscat, kemarin. Operasi pembubaran blokade itu berlangsung damai dan pasukan Oman membubarkan demonstran yang bermalam di Earth Roundabout, sebuah persimpangan tempat tewasnya seorang demonstran pada bentrok Minggu (27/2).
Aparat keamanan awalnya membubarkan demonstran dari jalan raya utama tepi pantai yang menghubungkan Muscat dan Sohar, 200 kilometer baratlaut ibu kota. Namun demonstran terus mengerahkan truk-truk yang memblokir akses dari pelabuhan Sohar menuju pabrik-pabrik aluminium dan petrokimia. Kendaraan lapis baja milik militer kemudian dikerahkan di Earth Roundabout.
Di Bahrain, ribuan demonstran turun ke jalan kemarin, menuju Lapangan Mutiara. “Kami saudara kandung, Sunni dan Syiah,” teriak pengunjuk rasa yang didominasi Syiah saat berpawai dari distrik Salmaniah, beberapa kilometer dari lapangan.
Para demonstran yang cacat dan duduk di kursi roda, memimpin pawai melintasi jalan tempat polisi menyerang dua demonstran hingga tewas, dua pekan silam. Sejumlah ulama turut berunjuk rasa. “Kita berpawai untuk menunjukkan persatuan antara Syiah dan Sunni di Bahrain,” papar Sheikh Mohammed Habib al-Muqdad, ulama yang diadili bersama 25 aktivis atas tuduhan terorisme. Dia dibebaskan pekan lalu atas ampunan kerajaan. (syarifudin)
Saleh lantas memecat lima gubernur provinsi yang menjadi basis unjuk rasa anti pemerintah, sebagian besar di bekas Yaman Selatan. Pengumuman resmi menyatakan, Saleh memecat gubernur Aden, Lahij, dan Abyan di selatan, serta Hadramut di tenggara dan Hudayda di barat.
“Setiap hari kita mendengar pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama yang berbunyi, Mesir jangan lakukan ini, Tunisia jangan lakukan itu. Apa yang telah dilakukan Obama pada Oman, apa yang telah dilakukannya pada Mesir? Anda presiden AS,” tegas Saleh.
Musuh-musuh Saleh berkumpul sejak kemarin pagi di jalanan menuju lapangan dengan Sanaa University, tempat mahasiswa dan demonstran anti pemerintah membangun kamp selama lebih dari sepekan. “Rakyat ingin Ali Abdullah Saleh pergi. Rakyat ingin menggulingkan rezim,” teriak demonstran.
Banyak pengunjuk rasa yang mengenakan kain putih bertuliskan, “Hidup bahagia atau mati sebagai martir.” Oposisi menegaskan, setengah juta orang turun ke jalan, meski koresponden AFP menyatakan jumlah tersebut terlalu dibesar-besarkan.
“Sejak kami menduduki lapangan dekat universitas Sanaa, kami belum pernah melihat jumlah sebanyak ini,” kata salah seorang penggerak unjuk rasa Hashem al-Sufy.
Sedangkan Kongres Rakyat Umum menyatakan jumlah massa di Lapangan Tahrir, Yaman, mencapai 1,5 juta jiwa. Seorang koresponden menjelaskan, ada perbedaan jumlah pengunjuk rasa.
Beberapa tokoh oposisi ikut berpidato, termasuk ulama terkenal Abdul Majeed al-Zendani, yang disebut sebagai teroris global oleh Washington. “Gerakan protes yang terjadi di dunia Arab merupakan pengubah rezim yang baru, efektif, cepat, dan tidak merusak,” katanya.
Sementara di Oman, tank-tank dikerahkan pemerintah untuk membubarkan blokade demonstran di pelabuhan kota industri Sohar dan jalan pantai menuju Muscat, kemarin. Operasi pembubaran blokade itu berlangsung damai dan pasukan Oman membubarkan demonstran yang bermalam di Earth Roundabout, sebuah persimpangan tempat tewasnya seorang demonstran pada bentrok Minggu (27/2).
Aparat keamanan awalnya membubarkan demonstran dari jalan raya utama tepi pantai yang menghubungkan Muscat dan Sohar, 200 kilometer baratlaut ibu kota. Namun demonstran terus mengerahkan truk-truk yang memblokir akses dari pelabuhan Sohar menuju pabrik-pabrik aluminium dan petrokimia. Kendaraan lapis baja milik militer kemudian dikerahkan di Earth Roundabout.
Di Bahrain, ribuan demonstran turun ke jalan kemarin, menuju Lapangan Mutiara. “Kami saudara kandung, Sunni dan Syiah,” teriak pengunjuk rasa yang didominasi Syiah saat berpawai dari distrik Salmaniah, beberapa kilometer dari lapangan.
Para demonstran yang cacat dan duduk di kursi roda, memimpin pawai melintasi jalan tempat polisi menyerang dua demonstran hingga tewas, dua pekan silam. Sejumlah ulama turut berunjuk rasa. “Kita berpawai untuk menunjukkan persatuan antara Syiah dan Sunni di Bahrain,” papar Sheikh Mohammed Habib al-Muqdad, ulama yang diadili bersama 25 aktivis atas tuduhan terorisme. Dia dibebaskan pekan lalu atas ampunan kerajaan. (syarifudin)
Selasa, 01 Maret 2011
Demonstran Libya Tolak Intervensi Militer Asing
BENGHAZI (SINDO)- Demonstran prodemokrasi bertekad menggulingkan Pemimpin Libya Muammar Khadafi tanpa intervensi militer asing mana pun, meski pertumpahan darah terjadi lagi.
Saat ini para pemimpin dunia menawarkan pilihan untuk mengakhiri 41 tahun pemerintahan Khadafi. Namun demonstran di kota terbesar kedua Libya, Benghazi, menggelar sebuah spanduk bertuliskan, “Tolak intervensi asing, rakyat Libya dapat melakukannya sendiri.”
Gerakan oposisi semakin kuat di Libya karena musuh-musuh Khadafi mengumumkan pembentukan dewan nasional di semua kota yang terlepas dari kontrol rezim. Dewan nasional itu akan menjadi wajah Libya di masa transisi.
Juru bicara gerakan revolusi Libya Abdel Hafiz Ghoqa menyatakan, rakyat akan membebaskan kota-kota di seluruh negara kaya minyak tersebut dan menyerahkan tugas membebaskan ibu kota Tripoli pada militer.
“Demonstran anti rezim meminta militer membebaskan Tripoli. Tapi rakyat Libya akan membebaskan kota-kota mereka lainnya,” papar Ghoqa yang menolak anggapan diperlukannya intervensi atau operasi militer asing mana pun.
Perdana Menteri (PM) Prancis Francois Fillon menyatakan, semua opsi sedang dibicarakan para pemimpin dunia. “Saya tahu orang-orang menyebut solusi militer dan solusi ini sedang dibahas pemerintah Prancis,” katanya, seperti dikutip kantor berita AFP.
Salah satu opsi yang ditawarkan ialah menggunakan angkatan udara NATO untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya, untuk menghentikan Khadafi melakukan serangan udara terhadap rakyatnya. Namun langkah semacam itu membutuhkan persetujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Amerika Serikat (AS) menyatakan, pengasingan terhadap Khadafi merupakan salah satu opsi yang akan memuaskan desakan agar pemimpin Libya itu pergi. Menurut juru bicara Gedung Putih Jay Carney, Washington terus berkomunikasi dengan berbagai faksi oposisi Libya. Tapi Carney menjelaskan, masih terlalu dini untuk mulai membicarakan pengakuan terhadap salah satu kelompok oposisi atau kelompok lain.
Sementara itu, Khadafi mengerahkan pasukannya ke wilayah perbatasan barat, Dehiba, kemarin, mengabaikan tekanan ekonomi dan militer Barat. Pengerahan pasukan itu membuat banyak pihak semakin khawatir akan terjadi lebih banyak kerusuhan.
Beberapa wartawan di wilayah Tunisia kemarin melihat kendaraan militer Libya dan tentara bersenjata Kalashnikov. Padahal hari sebelumnya tidak aad pasukan Libya di lintas perbatasan Dehiba yang terletak 60 kilometer dari kota Nalut.
Di wilayah barat lainnya, warga mengaku melihat pasukan pendukung Khadafi dikerahkan untuk mengontrol lagi Nalut, untuk memastikan daerah itu tidak jatuh ke tangan penentang rezim.
Meski saat ini Khadafi masih menguasai Tripoli, basis terakhirnya, pengaruh pemimpin itu di Libya telah merosot drastis dalam dua pekan terakhir. Sejumlah pemimpin suku, pejabat pemerintah, pejabat militer, dan unit-unit angkatan darat telah membelot menjadi pendukung pemberontak. Penentang rezim kini menguasai wilayah timur yang menjadi produsen utama energi.
Sementara itu, tokoh penting dari Aljazair yang diasingkan, Abdullah Anas, memperingatkan bahwa bantuan militer Barat pada kelompok penentang Khadafi akan menjadi sebuah kesalahan besar. Menurut Anas, setiap bantuan persenjataan Barat akan dimanfaatkan oleh Al Qaeda sebagai tanda imperialisme Barat, sama seperti ketika Barat menginvasi Irak pada 2003.
“Ini akan menjadi alasan seruan untuk jihad. Ini akan menguntungkan Khadafi dan Al Qaeda. Barat harus ingat apa yang terjadi di Irak,” katanya, seperti dikutip kantor berita Reuters.
Sementara itu di perbatasan Ras Jdir, antara Libya dan Tunisia, ribuan pengungsi asal Mesir marah karena warganegara lain dipindahkan dari perbatasan, tapi mereka tidak. Mereka membakar ranting-ranting pohon dan bersitegang dengan para petugas.
“Kapan kami dibawa pergi dari sini? Kami tidak dapat menerima ini,” tegas seorang warga Mesir di sebuah tenda, 5 kilometer dari perbatasan. “Beri saya seekor unta. Saya akan mengendarai unta. Saya hanya ingin kembali pulang.” (syarifudin)
Saat ini para pemimpin dunia menawarkan pilihan untuk mengakhiri 41 tahun pemerintahan Khadafi. Namun demonstran di kota terbesar kedua Libya, Benghazi, menggelar sebuah spanduk bertuliskan, “Tolak intervensi asing, rakyat Libya dapat melakukannya sendiri.”
Gerakan oposisi semakin kuat di Libya karena musuh-musuh Khadafi mengumumkan pembentukan dewan nasional di semua kota yang terlepas dari kontrol rezim. Dewan nasional itu akan menjadi wajah Libya di masa transisi.
Juru bicara gerakan revolusi Libya Abdel Hafiz Ghoqa menyatakan, rakyat akan membebaskan kota-kota di seluruh negara kaya minyak tersebut dan menyerahkan tugas membebaskan ibu kota Tripoli pada militer.
“Demonstran anti rezim meminta militer membebaskan Tripoli. Tapi rakyat Libya akan membebaskan kota-kota mereka lainnya,” papar Ghoqa yang menolak anggapan diperlukannya intervensi atau operasi militer asing mana pun.
Perdana Menteri (PM) Prancis Francois Fillon menyatakan, semua opsi sedang dibicarakan para pemimpin dunia. “Saya tahu orang-orang menyebut solusi militer dan solusi ini sedang dibahas pemerintah Prancis,” katanya, seperti dikutip kantor berita AFP.
Salah satu opsi yang ditawarkan ialah menggunakan angkatan udara NATO untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya, untuk menghentikan Khadafi melakukan serangan udara terhadap rakyatnya. Namun langkah semacam itu membutuhkan persetujuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Amerika Serikat (AS) menyatakan, pengasingan terhadap Khadafi merupakan salah satu opsi yang akan memuaskan desakan agar pemimpin Libya itu pergi. Menurut juru bicara Gedung Putih Jay Carney, Washington terus berkomunikasi dengan berbagai faksi oposisi Libya. Tapi Carney menjelaskan, masih terlalu dini untuk mulai membicarakan pengakuan terhadap salah satu kelompok oposisi atau kelompok lain.
Sementara itu, Khadafi mengerahkan pasukannya ke wilayah perbatasan barat, Dehiba, kemarin, mengabaikan tekanan ekonomi dan militer Barat. Pengerahan pasukan itu membuat banyak pihak semakin khawatir akan terjadi lebih banyak kerusuhan.
Beberapa wartawan di wilayah Tunisia kemarin melihat kendaraan militer Libya dan tentara bersenjata Kalashnikov. Padahal hari sebelumnya tidak aad pasukan Libya di lintas perbatasan Dehiba yang terletak 60 kilometer dari kota Nalut.
Di wilayah barat lainnya, warga mengaku melihat pasukan pendukung Khadafi dikerahkan untuk mengontrol lagi Nalut, untuk memastikan daerah itu tidak jatuh ke tangan penentang rezim.
Meski saat ini Khadafi masih menguasai Tripoli, basis terakhirnya, pengaruh pemimpin itu di Libya telah merosot drastis dalam dua pekan terakhir. Sejumlah pemimpin suku, pejabat pemerintah, pejabat militer, dan unit-unit angkatan darat telah membelot menjadi pendukung pemberontak. Penentang rezim kini menguasai wilayah timur yang menjadi produsen utama energi.
Sementara itu, tokoh penting dari Aljazair yang diasingkan, Abdullah Anas, memperingatkan bahwa bantuan militer Barat pada kelompok penentang Khadafi akan menjadi sebuah kesalahan besar. Menurut Anas, setiap bantuan persenjataan Barat akan dimanfaatkan oleh Al Qaeda sebagai tanda imperialisme Barat, sama seperti ketika Barat menginvasi Irak pada 2003.
“Ini akan menjadi alasan seruan untuk jihad. Ini akan menguntungkan Khadafi dan Al Qaeda. Barat harus ingat apa yang terjadi di Irak,” katanya, seperti dikutip kantor berita Reuters.
Sementara itu di perbatasan Ras Jdir, antara Libya dan Tunisia, ribuan pengungsi asal Mesir marah karena warganegara lain dipindahkan dari perbatasan, tapi mereka tidak. Mereka membakar ranting-ranting pohon dan bersitegang dengan para petugas.
“Kapan kami dibawa pergi dari sini? Kami tidak dapat menerima ini,” tegas seorang warga Mesir di sebuah tenda, 5 kilometer dari perbatasan. “Beri saya seekor unta. Saya akan mengendarai unta. Saya hanya ingin kembali pulang.” (syarifudin)
Khadafi Bersikeras Rakyat Libya Mencintainya
TRIPOLI (SINDO)- Pemimpin Libya Muammar Khadafi bersikeras rakyatnya mencintainya, meski rezim saat ini hanya mengontrol beberapa wilayah barat sekitar ibu kota.
“Mereka semua mencintai saya. Mereka akan mati untuk melindungi saya,” tegas Khadafi dalam wawancara dengan wartawan Barat di sebuah restoran Tripoli, seperti dikutip kantor berita AFP.
Dia tertawa saat ditanya kemungkinan meninggalkan Libya seiring tekanan Gedung Putih yang menunjukkan kemungkinan mengasingkannya. Menurut Khadafi, dia tidak dapat mundur karena dia tidak memiliki jabatan resmi. Khadafi menegaskan, kekuasaannya ada bersama rakyat.
Kolonel Khadafi menantang sejumlah orang, termasuk Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron yang menuduhnya memiliki uang di luar negeri. “Saya akan meletakkan dua jari di mata mereka,” tegasnya.
Menurut Khadafi, rakyat Libya sebenarnya tidak berdemonstrasi, tapi mereka yang turun ke jalan ialah yang dalam pengaruh narkotika dan obat-obat terlarang yang disuplai Al-Qaeda. Khadafi menegaskan, orang-orang itu merampas senjata dan pendukung rezim diperintahkan untuk tidak menyerang balik.
Amerika Serikat (AS) sudah memblokir USD30 miliar aset Libya. Ini merupakan pembekuan aset terbesar dalam sejarah. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Susan Rice menyatakan, wawancara dengan Khadafi itu menunjukkan pemimpin Libya tersebut sudah tidak layak memimpin dan terputus dari realitas.
“Ini sejujurnya terdengar mengkhayal, saat dia dapat bicara dan tertawa pada seorang wartawan Amerika dan internasional, saat dia membantai rakyatnya sendiri,” ujar Rice.
AS menggerakkan angkatan laut dan angkatan udara dalam posisi di sekitar Libya. Inggris menyatakan bekerja sama dengan aliansinya untuk penerapan larangan zona terbang militer di atas Libya. Namun Inggris juga menekankan kesulitan dalam logistik dan diplomatik.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyangkal bahwa aksi militer pasukan aliansi akan dilakukan segera. Tapi Hillary menegaskan, Khadafi harus menyerahkan kekuasaan sekarang juga.
Sesuai laporan kantor berita Reuters, di Dewan HAM PBB, Jenewa, Hillary menegaskan, dukungan untuk transisi politik secara damai di Libya bukan hanya masalah yang ideal tapi juga strategi yang tidak boleh tidak bagi Barat.
Sementara itu, Presiden Venezuela Hugo Chavez memperingatkan, dia memperingatkan bahwa AS ingin menginvasi Libya untuk mendapatkan minyaknya. Chavez menegaskan bahwa dia tidak akan mengecam seorang teman yang tidak tahu menjadi seorang pembunuh.
“Siapa yang mengatakan Khadafi seorang pembunuh, apakah Chavez mengatakannya?” kata Chavez dalam pertemuan dengan mahasiswa di ibu kota Karakas.
Bersamaan dengan langkah Kementerian Pertahanan AS yang mengerahkan angkatan laut dan angkatan udara ke dekat Libya, serta kemungkinan besar intervensi militer negara-negara Barat, Chavez menegaskan, “AS telah mengatakan siap menginvasi Libya. Dan seluruh negara Eropa mengecam Libya. Apa yang mereka inginkan? Minyak Libya,” papar Chavez.
Menurut Chavez, Khadafi sedang menghadapi perang sipil di negaranya. “Panjang umur Libya dan kemerdekaannya! Kadhafi menghadapi perang sipil!” tulis Chavez di Twitternya. (syarifudin)
“Mereka semua mencintai saya. Mereka akan mati untuk melindungi saya,” tegas Khadafi dalam wawancara dengan wartawan Barat di sebuah restoran Tripoli, seperti dikutip kantor berita AFP.
Dia tertawa saat ditanya kemungkinan meninggalkan Libya seiring tekanan Gedung Putih yang menunjukkan kemungkinan mengasingkannya. Menurut Khadafi, dia tidak dapat mundur karena dia tidak memiliki jabatan resmi. Khadafi menegaskan, kekuasaannya ada bersama rakyat.
Kolonel Khadafi menantang sejumlah orang, termasuk Perdana Menteri (PM) Inggris David Cameron yang menuduhnya memiliki uang di luar negeri. “Saya akan meletakkan dua jari di mata mereka,” tegasnya.
Menurut Khadafi, rakyat Libya sebenarnya tidak berdemonstrasi, tapi mereka yang turun ke jalan ialah yang dalam pengaruh narkotika dan obat-obat terlarang yang disuplai Al-Qaeda. Khadafi menegaskan, orang-orang itu merampas senjata dan pendukung rezim diperintahkan untuk tidak menyerang balik.
Amerika Serikat (AS) sudah memblokir USD30 miliar aset Libya. Ini merupakan pembekuan aset terbesar dalam sejarah. Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Susan Rice menyatakan, wawancara dengan Khadafi itu menunjukkan pemimpin Libya tersebut sudah tidak layak memimpin dan terputus dari realitas.
“Ini sejujurnya terdengar mengkhayal, saat dia dapat bicara dan tertawa pada seorang wartawan Amerika dan internasional, saat dia membantai rakyatnya sendiri,” ujar Rice.
AS menggerakkan angkatan laut dan angkatan udara dalam posisi di sekitar Libya. Inggris menyatakan bekerja sama dengan aliansinya untuk penerapan larangan zona terbang militer di atas Libya. Namun Inggris juga menekankan kesulitan dalam logistik dan diplomatik.
Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menyangkal bahwa aksi militer pasukan aliansi akan dilakukan segera. Tapi Hillary menegaskan, Khadafi harus menyerahkan kekuasaan sekarang juga.
Sesuai laporan kantor berita Reuters, di Dewan HAM PBB, Jenewa, Hillary menegaskan, dukungan untuk transisi politik secara damai di Libya bukan hanya masalah yang ideal tapi juga strategi yang tidak boleh tidak bagi Barat.
Sementara itu, Presiden Venezuela Hugo Chavez memperingatkan, dia memperingatkan bahwa AS ingin menginvasi Libya untuk mendapatkan minyaknya. Chavez menegaskan bahwa dia tidak akan mengecam seorang teman yang tidak tahu menjadi seorang pembunuh.
“Siapa yang mengatakan Khadafi seorang pembunuh, apakah Chavez mengatakannya?” kata Chavez dalam pertemuan dengan mahasiswa di ibu kota Karakas.
Bersamaan dengan langkah Kementerian Pertahanan AS yang mengerahkan angkatan laut dan angkatan udara ke dekat Libya, serta kemungkinan besar intervensi militer negara-negara Barat, Chavez menegaskan, “AS telah mengatakan siap menginvasi Libya. Dan seluruh negara Eropa mengecam Libya. Apa yang mereka inginkan? Minyak Libya,” papar Chavez.
Menurut Chavez, Khadafi sedang menghadapi perang sipil di negaranya. “Panjang umur Libya dan kemerdekaannya! Kadhafi menghadapi perang sipil!” tulis Chavez di Twitternya. (syarifudin)
Langganan:
Postingan (Atom)