BASTROP- Korban tewas akibat kebakaran di Texas meningkat menjadi empat orang setelah tim penyelamat menemukan dua jasad lagi pada Selasa (6/9). Kebakaran itu telah menghancurkan lebih dari 700 rumah hanya dalam tiga hari.
“Ini sesuatu yang kami tidak ingin melihatnya,” kata hakim wilayah Bastrop, Ronnie McDonald, dalam pengumuman dua korban tewas terbaru, seperti dikutip AFP. “Saya akan mendorong masyarakat terus berdoa bahwa kita tidak akan melihat korban lagi.”
Pemadam terus berjuang menjinakkan si jago merah yang tidak dapat dikendalikan. Kebakaran yang terjadi di musim kering itu telah mengubah sebagian wilayah Texas menjadi arang. Lebih dari 1,4 juta hektar atau seukuran dengan negara bagian Connecticut, telah terbakar oleh lebih dari 18.700 titik api sejak musim kebakaran liar pada Desember silam.
Sebagian besar kebarakan terjadi di wilayah pedesaan dan petugas pemadam berupaya menyelamatkan rumah-rumah di sana. Namun kebakaran kian memburuk pada Minggu (4/9) saat badai tropis menerjang Teluk Meksiko sehingga membawa angin kencang yang membuat si jago merah semakin menyebar luas dengan cepat.
Ribuan orang terpaksa dievakuasi dari rumah-rumah mereka karena api menjalar dengan cepat. “Kami terkepung,” papar April Saginor, juru bicara Badan Kehutanan Texas pada AFP. “Yang kami butuhkan ialah hujan.”
Warga berdoa agar ada hujan lebat yang dibawa badai tropis. Kerusakan terparah terjadi di wilayah Bastrop, di mana kebakaran menghancurkan sedikitnya 600 rumah dan merusak lahan seluas 35.000 acre pada Selasa siang (6/9).
Gubernur Texas Rick Perry meminta petugas gawat darurat untuk mengerahkan tim elit search and rescue, Task Force 1, ke lokasi kebakaran. “Menunggu itu sesuatu yang paling membuat frustrasi. Anda duduk di sana dan Anda tidak tahu apapun tapi rumah Anda mungkin terbakar,” tutur Gina Thurman, 47, yang berurai air mata sambil duduk di luar sebuah tenda pengungsian di Bastrop.
“Petugas pemadam kebakaran telah merespon 181 titik api yang membakar lebih dari 118.000 acre pada pekan lalu,” papar laporan situasi terbaru dari Badan Kehutanan Texas. Daerah seluas 90.000 acre masih terbakar pada Selasa (6/9).
Dua korban tewas yang dilaporkan pertama kali di Texas Timur merupakan seorang perempuan berusia 20 tahun dan anaknya. Keduanya tidak dapat keluar dari rumah mobilnya pada Minggu (4/9) saat api membakar trailernya.
Kepala Kepolisian Wilayah Gregg, Maxey Cerliano, menjelaskan bahwa korban ditemukan tewas dekat Gladewater, 240 kilometer timur Fort Worth. Pejabat lainnya menjelaskan, enam orang lainnya, termasuk empat petugas pemadam kebakaran, tewas akibat kebakaran awal tahun ini.
Akibat kebakaran di Texas, Perry membalatkan acara kampanye di Carolina Selatan. staf kampanye Perry tidak memberikan komentar saat ditanya apakah Perry akan hadir dalam debat pertama di televisi pada Rabu (7/9).
“Ini salah satu kebakaran paling mengerikan yang pernah saya lihat. Besarnya kerusakan akibat musibah ini sangat mengejutkan,” ujar Perry setelah melihat rumah-rumah yang terbakar di dekat Austin dengan mengendarai pesawat terbang. (syarifudin)
Cari di Sini
Rabu, 07 September 2011
AS Yakin Khadafi Masih di Libya
WASHINGTON- Para pejabat senior Libya berada dalam satu konvoi menuju Nigeria, tapi mantan Pemimpin Libya Muammar Khadafi tidak diyakini bersama mereka.
Pernyataan itu diungkapkan Kementerian Luar Negeri (kemenlu) Amerika Serikat (AS) untuk menyangkal rumor bahwa Khadafi berada bersama konvoi tersebut. Keberadaan Khadafi masih menjadi teka-teki sejak Tripoli jatuh ke tangan oposisi Dewan Transisi Nasional (NTC).
“Kami tidak yakin Khadafi bersama mereka,” papar juru bicara Kemenlu AS Victoria Nuland pada AFP. “Kami tidak memiliki bukti apa pun bahwa Khadafi ada di tempat lain, namun di Libya pada saat ini.”
Khadafi tidak tampak sejak Tripoli jatuh ke tangan oposisi pada 20 Agustus silam. Namun Kamis lalu (1/9), Khadafi masih menyampaikan pesan suara yang menyeru para pendukungnya untuk mempersiapkan perang gerilya.
Mishan al-Juburi, pemilik televisi yang berkantor pusat di Suriah, Arrai Oruba, yang dekat dengan Khadafi, juga menyatakan bahwa mantan pemimpin Libya dan putranya Seif al-Islam masih berada di Libya dan dalam keadaan baik-baik saja.
“Saya dapat katakan pada Anda bahwa saya berbicara dengan Khadafi dalam waktu dekat ini. Dia berada di Libya, dalam kondisi sangat baik, semangat yang kuat, tidak takut, dan akan senang meninggal saat berjuang melawan penjajah,” kata Mishan yang pernah menjadi anggota parlemen Irak.
“Putranya Seif al-Islam juga dalam kondisi yang sama,” papar Mishan, 54, yang meluncurkan televisinya pada 2006.
Saat ditanya bagaimana dia menghubungi Khadafi, Mishan menjawab, “Saat saya ingin berbicara padanya, saya mengirimkan sebuah pesan, atau dia menghubungi saya saat dia ingin mengirimkan sebuah pesan.”
Sementara itu, kepala keamanan Khadafi, Mansour Daw, merupakan satu dari beberapa mantan pejabat Libya yang telah tiba di ibu kota Nigeria, Niamey, dalam sebuah konvoi ratusan kendaraan. Daw memasuki Nigeria pada Minggu (4/9) dan melalui kota gurun Agadez. Konvoi itu selain membawa para pendukung Khadafi juga membawa emas dan uang tunai.
Reuters mengutip sumber keamanan AS bahwa Daw tiba di Niamey bersama mantan pejabat penting di era pemerintahan Khadafi. Menteri Dalam Negeri Nigeria Abdou Labo menyatakan, Daw diijinkan masuk ke negaranya atas alasan kemanusiaan.
Konvoi terbaru yang menuju Nigeria dari Libya tiba di Agadez pada Senin (5/9) dan menuju Niamey yang terletak 950 km ke baratdaya. Konvoi itu diyakini berisi sedikitnya 50 mobil bersenjata berat dan mereka yang ikut antara lain para pejuang Tuareg yang direkrut Khadafi.
“Mobil-mobil itu membawa emas, uang euro dan dollar. Mereka melintas dari Jufra menuju Nigeria dengan bantuan Tuareg dari suku Nigeria,” papar Fathi Baja dari NTC.
AS mendesak Nigeria menahan tokoh-tokoh senior pendukung Khadafi yang masuk ke sana. “Kami mendesak pejabat Nigeria menahan anggota rezim Khadafi yang mungkin menjadi target pengadilan,” papar juru bicara Kemenlu AS Victoria Nuland.
Laporan sebelumnya yang menyatakan Burkina Faso di baratdaya Nigeria juga menawarkan suaka pada Khadafi, dibantah oleh Menteri Komunikasi Nigeria Alain Edouard Traore. “Burkina Faso tidak menawarkan suaka pada Khadafi. Burkina Faso tidak memberi informasi bahwa Khadafi datang ke negara ini,” ungkap Nuland.
Seorang komandan militer oposisi meyakini Khadafi masih berada di Libya, tapi menjauh dari wilayah-wilayah pertempuran. “Kami mendapat informasi dari banyak sumber bahwa dia berupaya menjauh menuju wilayah selatan, menuju Chad atau Nigeria,” papar Hisham Buhagiar saat diwawancarai Reuters.
Khadafi sejak awal bertekad berjuang di negaranya hingga mati, meski dia telah kehilangan kontrol di sebagian wilayah Libya. Karena itu sebagian pihak yakin Khadafi memang masih berada di Libya.
Sementara itu negosiator pemerintahan baru Libya sukses bernegosiasi dengan warga kota oasis Bani Walid yang menjadi basis pendukung Khadafi, agar bersedia menyerah dengan damai pada NTC.
“Negosiasi sukses kemarin dan kami menunggu NTC untuk memberi kami lampu hijau untuk masuk ke sana,” papar kepala negosiator NTC Abdullah Kenshil yang menyatakan mereka berkomitmen menghindari pertumpahan darah di Bani Walid, meskipun satu delegasi yang dikirim ke kota oasis itu pada Selasa (6/9) harus mundur setelah ditembaki.
“Tetua suku telah bergabung dengan revolusi,” kata Kenshil yang menambahkan, beberapa tetua berada di Tripoli dan lainnya kembali ke Bani Walid setelah milisi yang setia pada Khadafi menolak mereka. (syarifudin)
Pernyataan itu diungkapkan Kementerian Luar Negeri (kemenlu) Amerika Serikat (AS) untuk menyangkal rumor bahwa Khadafi berada bersama konvoi tersebut. Keberadaan Khadafi masih menjadi teka-teki sejak Tripoli jatuh ke tangan oposisi Dewan Transisi Nasional (NTC).
“Kami tidak yakin Khadafi bersama mereka,” papar juru bicara Kemenlu AS Victoria Nuland pada AFP. “Kami tidak memiliki bukti apa pun bahwa Khadafi ada di tempat lain, namun di Libya pada saat ini.”
Khadafi tidak tampak sejak Tripoli jatuh ke tangan oposisi pada 20 Agustus silam. Namun Kamis lalu (1/9), Khadafi masih menyampaikan pesan suara yang menyeru para pendukungnya untuk mempersiapkan perang gerilya.
Mishan al-Juburi, pemilik televisi yang berkantor pusat di Suriah, Arrai Oruba, yang dekat dengan Khadafi, juga menyatakan bahwa mantan pemimpin Libya dan putranya Seif al-Islam masih berada di Libya dan dalam keadaan baik-baik saja.
“Saya dapat katakan pada Anda bahwa saya berbicara dengan Khadafi dalam waktu dekat ini. Dia berada di Libya, dalam kondisi sangat baik, semangat yang kuat, tidak takut, dan akan senang meninggal saat berjuang melawan penjajah,” kata Mishan yang pernah menjadi anggota parlemen Irak.
“Putranya Seif al-Islam juga dalam kondisi yang sama,” papar Mishan, 54, yang meluncurkan televisinya pada 2006.
Saat ditanya bagaimana dia menghubungi Khadafi, Mishan menjawab, “Saat saya ingin berbicara padanya, saya mengirimkan sebuah pesan, atau dia menghubungi saya saat dia ingin mengirimkan sebuah pesan.”
Sementara itu, kepala keamanan Khadafi, Mansour Daw, merupakan satu dari beberapa mantan pejabat Libya yang telah tiba di ibu kota Nigeria, Niamey, dalam sebuah konvoi ratusan kendaraan. Daw memasuki Nigeria pada Minggu (4/9) dan melalui kota gurun Agadez. Konvoi itu selain membawa para pendukung Khadafi juga membawa emas dan uang tunai.
Reuters mengutip sumber keamanan AS bahwa Daw tiba di Niamey bersama mantan pejabat penting di era pemerintahan Khadafi. Menteri Dalam Negeri Nigeria Abdou Labo menyatakan, Daw diijinkan masuk ke negaranya atas alasan kemanusiaan.
Konvoi terbaru yang menuju Nigeria dari Libya tiba di Agadez pada Senin (5/9) dan menuju Niamey yang terletak 950 km ke baratdaya. Konvoi itu diyakini berisi sedikitnya 50 mobil bersenjata berat dan mereka yang ikut antara lain para pejuang Tuareg yang direkrut Khadafi.
“Mobil-mobil itu membawa emas, uang euro dan dollar. Mereka melintas dari Jufra menuju Nigeria dengan bantuan Tuareg dari suku Nigeria,” papar Fathi Baja dari NTC.
AS mendesak Nigeria menahan tokoh-tokoh senior pendukung Khadafi yang masuk ke sana. “Kami mendesak pejabat Nigeria menahan anggota rezim Khadafi yang mungkin menjadi target pengadilan,” papar juru bicara Kemenlu AS Victoria Nuland.
Laporan sebelumnya yang menyatakan Burkina Faso di baratdaya Nigeria juga menawarkan suaka pada Khadafi, dibantah oleh Menteri Komunikasi Nigeria Alain Edouard Traore. “Burkina Faso tidak menawarkan suaka pada Khadafi. Burkina Faso tidak memberi informasi bahwa Khadafi datang ke negara ini,” ungkap Nuland.
Seorang komandan militer oposisi meyakini Khadafi masih berada di Libya, tapi menjauh dari wilayah-wilayah pertempuran. “Kami mendapat informasi dari banyak sumber bahwa dia berupaya menjauh menuju wilayah selatan, menuju Chad atau Nigeria,” papar Hisham Buhagiar saat diwawancarai Reuters.
Khadafi sejak awal bertekad berjuang di negaranya hingga mati, meski dia telah kehilangan kontrol di sebagian wilayah Libya. Karena itu sebagian pihak yakin Khadafi memang masih berada di Libya.
Sementara itu negosiator pemerintahan baru Libya sukses bernegosiasi dengan warga kota oasis Bani Walid yang menjadi basis pendukung Khadafi, agar bersedia menyerah dengan damai pada NTC.
“Negosiasi sukses kemarin dan kami menunggu NTC untuk memberi kami lampu hijau untuk masuk ke sana,” papar kepala negosiator NTC Abdullah Kenshil yang menyatakan mereka berkomitmen menghindari pertumpahan darah di Bani Walid, meskipun satu delegasi yang dikirim ke kota oasis itu pada Selasa (6/9) harus mundur setelah ditembaki.
“Tetua suku telah bergabung dengan revolusi,” kata Kenshil yang menambahkan, beberapa tetua berada di Tripoli dan lainnya kembali ke Bani Walid setelah milisi yang setia pada Khadafi menolak mereka. (syarifudin)
Bom Meledak di Pengadilan Delhi, 10 Tewas
NEW DELHI- Satu bom yang disembunyikan di sebuah tas meledak di tengah kerumunan orang di luar gedung Pengadilan Tinggi New Delhi, kemarin. Sebanyak 10 orang tewas dan 62 orang lainnya terluka akibat ledakan bom tersebut.
Sebagian besar korban merupakan para pemohon yang menugngu kasus mereka diperiksa pengadilan. Polisi menyatakan, tas berisi bom itu diletakkan dekat pintu masuk ruang resepsionis, tempat lebih dari 100 orang antri untuk masuk kompleks pengadilan di pusat ibu kota India.
Setelah ledakan bom terjadi, orang-orang dievakuasi dari kompleks gedung pengadilan. Polisi segera menutup wilayah serangan bom dan petugas gawat darurat bertindak cepat menyelamatkan korban luka-luka yang sebagian dalam kondisi kritis.
“Sepuluh orang dikonfirmasi tewas,” papar juru bicara kepolisian New Delhi Rajan Bhagat pada kantor berita AFP.
Ledakan terjadi pada pukul 10.15 pagi waktu setempat. Rekaman video yang diambil dengan telepon seluler dari lokasi ledakan segera ditayangkan sejumlah saluran berita televisi. Dalam rekaman itu para korban berteriak di lantai yang dipenuhi kertas-kertas berserakan dan genangan darah.
Perdana Menteri (PM) India Manmohan Singh mengecam serangan tersebut dengan mengatakan, India tidak dapat ditakuti oleh terorisme. “Ini sebuah tindakan pengecut dari teroris,” tegasnya saat masih berada di Bangladesh, seperti dilaporkan televisi di Dhaka. “Ini satu perang panjang yang dilakukan semua partai politik, semua rakyat India. Kita harus bersatu sehingga terorisme dapat ditumpas.”
Menteri Dalam Negeri India P. Chidamabaram dalam pernyataan di parlemen menyeru seluruh rakyat untuk tetap tenang dan bersatu dalam menghadapi upaya mengacaukan stabilitas negara. Seorang polisi menyatakan, investigasi awal menunjukkan bom itu mengandung potassium nitrate.
Investigator federal India kemarin menyatakan sedang mempelajari sebuah email dari kelompok militan aktif di Asia Selatan yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom di Pengadilan Tinggi New Delhi tersebut.
Email itu dikirim ke media India dan mengklaim berasal dari Harkat-ul-Jihad al-Islami (HUJI) yang diduga terkait sejumlah serangan sebelumnya di India. “Kami bertanggung jawab atas ledakan bom hari ini di pengadilan tinggi Delhi,” ungkap pesan email tersebut.
Pesan itu berisi peringatan bahwa berbagai fasilitas pengadilan lainnya, termasuk Mahkamah Agung (MA) India, akan menjadi target serangan hingga pemerintah mencabut vonis hukuman mati terhadap seorang pria yang didakwa berkonspirasi dalam serangan di parlemen India pada 2001.
Sejumlah korban dan saksi mata menceritakan kejadian tersebut. “Lebih dari 100 orang antri di meja resepsionis. Lalu terjadi sebuah ledakan besar. Saya melihat banyak orang bergelimpangan di lantai dalam genangan darah,” ujar Rahul Gupta, seorang pemohon yang kasusnya sudah terdaftar untuk diperiksa pengadilan kemarin.
Rajesh Gupta, 45, pengusaha yang ikut antri untuk mendapatkan ijin masuk pengadilan, menjelaskan, “Tangan saya terluka. Teman saya mengalami luka serius di kakinya. Dia sudah dibawa ke rumah sakit,” tuturnya. “Tempat itu sangat ramai, pasti ada sekitar 200 orang di sana. Lokasi kejadian sangat kacau. Orang-orang panik dan khawatir dengan kondisi teman-teman dan kerabatnya.”
M.I. Chowdhary, pengacara yang berada di gedung pengadilan menjelaskan pada AFP bahwa dia sedang bekerja di kantornya saat bom meledak. “Saya di kamar saya saat saya mendengar satu ledakan keras dan jendela-jendela di ruangan saya pecah. Orang-orang membawa korban yang terluka untuk keluar gedung. Beberapa orang tampak luka parah,” katanya.
“Waktu itu merupakan jam sibuk bagi para pemohon dan orang lain yang hendak minta ijin di bagian resepsionis. Tampaknya pelaku telah menentukan waktu tersebut agar korbannya banyak. Keamanan benar-benar tidak bagus. Perlu pengetatan keamanan di lokasi yang sensitif,” papar M.I. Chowdhary.
Serangan ini merupakan yang terbesar pertama di India sejak tiga ledakan beruntun di Mumbai pada 13 Juli yang menewaskan 26 orang. Hingga saat ini tidak diketahui siapa yang melakukan serangan tersebut.
Pengeboman sebelumnya di ibu kota India terjadi pada September 2008 saat serangkaian ledakan menghancurkan beberapa lokasi perbelanjaan hingga menewaskan 22 orang dan melukai sekitar 100 orang. Gerakan militan yang disebut Indian Mujahideen mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pengadilan Tinggi New Delhi pernah menjadi target serangan sebelumnya. Pada Mei tahun ini, sebuah bom berkekuatan kecil meledak di tempat parkir, tapi tidak ada korban tewas dan hanya mengakibatkan sedikit kerusakan. (syarifudin)
Sebagian besar korban merupakan para pemohon yang menugngu kasus mereka diperiksa pengadilan. Polisi menyatakan, tas berisi bom itu diletakkan dekat pintu masuk ruang resepsionis, tempat lebih dari 100 orang antri untuk masuk kompleks pengadilan di pusat ibu kota India.
Setelah ledakan bom terjadi, orang-orang dievakuasi dari kompleks gedung pengadilan. Polisi segera menutup wilayah serangan bom dan petugas gawat darurat bertindak cepat menyelamatkan korban luka-luka yang sebagian dalam kondisi kritis.
“Sepuluh orang dikonfirmasi tewas,” papar juru bicara kepolisian New Delhi Rajan Bhagat pada kantor berita AFP.
Ledakan terjadi pada pukul 10.15 pagi waktu setempat. Rekaman video yang diambil dengan telepon seluler dari lokasi ledakan segera ditayangkan sejumlah saluran berita televisi. Dalam rekaman itu para korban berteriak di lantai yang dipenuhi kertas-kertas berserakan dan genangan darah.
Perdana Menteri (PM) India Manmohan Singh mengecam serangan tersebut dengan mengatakan, India tidak dapat ditakuti oleh terorisme. “Ini sebuah tindakan pengecut dari teroris,” tegasnya saat masih berada di Bangladesh, seperti dilaporkan televisi di Dhaka. “Ini satu perang panjang yang dilakukan semua partai politik, semua rakyat India. Kita harus bersatu sehingga terorisme dapat ditumpas.”
Menteri Dalam Negeri India P. Chidamabaram dalam pernyataan di parlemen menyeru seluruh rakyat untuk tetap tenang dan bersatu dalam menghadapi upaya mengacaukan stabilitas negara. Seorang polisi menyatakan, investigasi awal menunjukkan bom itu mengandung potassium nitrate.
Investigator federal India kemarin menyatakan sedang mempelajari sebuah email dari kelompok militan aktif di Asia Selatan yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan bom di Pengadilan Tinggi New Delhi tersebut.
Email itu dikirim ke media India dan mengklaim berasal dari Harkat-ul-Jihad al-Islami (HUJI) yang diduga terkait sejumlah serangan sebelumnya di India. “Kami bertanggung jawab atas ledakan bom hari ini di pengadilan tinggi Delhi,” ungkap pesan email tersebut.
Pesan itu berisi peringatan bahwa berbagai fasilitas pengadilan lainnya, termasuk Mahkamah Agung (MA) India, akan menjadi target serangan hingga pemerintah mencabut vonis hukuman mati terhadap seorang pria yang didakwa berkonspirasi dalam serangan di parlemen India pada 2001.
Sejumlah korban dan saksi mata menceritakan kejadian tersebut. “Lebih dari 100 orang antri di meja resepsionis. Lalu terjadi sebuah ledakan besar. Saya melihat banyak orang bergelimpangan di lantai dalam genangan darah,” ujar Rahul Gupta, seorang pemohon yang kasusnya sudah terdaftar untuk diperiksa pengadilan kemarin.
Rajesh Gupta, 45, pengusaha yang ikut antri untuk mendapatkan ijin masuk pengadilan, menjelaskan, “Tangan saya terluka. Teman saya mengalami luka serius di kakinya. Dia sudah dibawa ke rumah sakit,” tuturnya. “Tempat itu sangat ramai, pasti ada sekitar 200 orang di sana. Lokasi kejadian sangat kacau. Orang-orang panik dan khawatir dengan kondisi teman-teman dan kerabatnya.”
M.I. Chowdhary, pengacara yang berada di gedung pengadilan menjelaskan pada AFP bahwa dia sedang bekerja di kantornya saat bom meledak. “Saya di kamar saya saat saya mendengar satu ledakan keras dan jendela-jendela di ruangan saya pecah. Orang-orang membawa korban yang terluka untuk keluar gedung. Beberapa orang tampak luka parah,” katanya.
“Waktu itu merupakan jam sibuk bagi para pemohon dan orang lain yang hendak minta ijin di bagian resepsionis. Tampaknya pelaku telah menentukan waktu tersebut agar korbannya banyak. Keamanan benar-benar tidak bagus. Perlu pengetatan keamanan di lokasi yang sensitif,” papar M.I. Chowdhary.
Serangan ini merupakan yang terbesar pertama di India sejak tiga ledakan beruntun di Mumbai pada 13 Juli yang menewaskan 26 orang. Hingga saat ini tidak diketahui siapa yang melakukan serangan tersebut.
Pengeboman sebelumnya di ibu kota India terjadi pada September 2008 saat serangkaian ledakan menghancurkan beberapa lokasi perbelanjaan hingga menewaskan 22 orang dan melukai sekitar 100 orang. Gerakan militan yang disebut Indian Mujahideen mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.
Pengadilan Tinggi New Delhi pernah menjadi target serangan sebelumnya. Pada Mei tahun ini, sebuah bom berkekuatan kecil meledak di tempat parkir, tapi tidak ada korban tewas dan hanya mengakibatkan sedikit kerusakan. (syarifudin)
Selasa, 06 September 2011
Khadafi Dikabarkan Bersama Konvoi Menuju Nigeria
AGADEZ- Mantan pemimpin Libya Muammar Khadafi kemarin dikabarkan berada bersama konvoi 200 kendaraan yang melintasi perbatasan menuju Nigeria. Konvoi itu menuju ibu kota Niamey.
Konvoi tersebut memasuki wilayah Sahelian pada Senin (5/9) dan menuju kota Agadez, basis pendukung matnan pemberontak Tuareg yang pernah didukung Khadafi. Kabar tersebut diungkapkan sumber militer lokal.
“Saya melihat satu konvoi yang sangat besar dan jarang ada yang berisi puluhan kendaraan memasuki Agadez dari Arlit dan menuju Niamey,” papar sumber tersebut pada AFP, di tengah dugaan bahwa Khadafi ikut bersama konvoi tersebut. “Ada rumor kuat bahwa Khadafi atau salah satu putranya sedang bersama konvoi itu.” Menurut sumber anonim itu, konvoi itu terdiri atas kendaraan sipil dan militer.
Kepemimpinan baru Libya di Tripoli segera mengonfirmasi kabar tersebut. “Kami dapat mengonfirmasi bahwa konvoi 200 mobil melintas dari Libya ke Nigeria, tapi kami tidak dapat mengonfirmasi siapa yang berada dalam konvoi ini,“ papar Jalal al-Gallal, juru bicara Dewan Transisi Nasional (NTC) di ibu kota Libya, kemarin.
Dia menambahkan, “Tipe konvoi seperti ini biasanya membawa Khadafi atau salah satu putranya.”
Perbatasan terdekat dengan Arlit, kota tambang di Agadez utara, merupakan bagian Aljazair. Konvoi itu mungkin telah meninggalkan wilayah Libya melalui Aljazair tmur sebelum memasuki Nigeria bagian timurlaut.
“Saya melihat satu konvoi berisi puluhan mobil melintasi kota dan menuju Niamey,” kata seorang wartawan dari sebuah stasiun radio swasta di Agadez.
Wartawan itu mengatakan, beberapa orang yang dilaporkan terlihat dalam konvoi tersebut ialah Rhissa Ag Boula, tokoh pemberontak Tuareg yang memiliki hubungan kuat dengan Khadafi. Saat dikonfirmasi, dia menyangkal berada dalam konvoi tersebut. “Saya tidak dalam konvoi, saya di Niamey,” papar Ag Boula melalui telepon pada AFP. Ag Boula berada di Libya setelah kesepakatan 2009 yang dimediasi Khadafi berhasil mengakhiri pemberontakan Tuareg di Nigeria.
Pada Senin (5/9), seorang pejabat pemerintah juga berbicara secara anomim. Menurutnya, konvoi lain yang lebih kecil yang terdiri atas 11 tokoh penting Libya telah tiba di Nigeria. “Muammar Khadafi tidak tidak menjadi bagian delegasi yang tiba di Nigeria, yang terdiri atas tiga warga Nigeria: Agaly Alambo dan dua saudara kandungnya, serta 11 warga Libya, diantaranya ialah Mansour Daw,” papar sumber pemerintah.
Daw merupakan kepala intelijen internal Khadafi dan Alambo merupakan tokoh sejarah dalam pemberontakan Tuareg Nigeria yang memiliki hubungan dengan dengan Khadafi. “Sebanyak 11 warga Libya akan diterima di Niamey dan kami telah mengambil sejumlah langkah untuk ini,” tutur seorang pejabat keamanan.
Saat kekuatan Barat mendukung gerakan pemberontak Libya pada awal tahun ini, Alambo merekrut ratusan mantan pemberontak dari Nigeria untuk berjuang bersama Khadafi yang dianggap warga kawasan Tuareg sebagai tokoh panutan mereka.
Pekan lalu, seorang sumber dari Tuareg mengatakan, orang dekat Khadafi telah tiba di Agadez pada April dengan koper-koper penuh uang untuk merekrut ratusan pemuda. Sumber itu mengatakan, sekitar 1.500 mantan pemberontak Tuareg telah berjuang untuk Khadafi.
Nigeria bulan lalu secara resmi mengakui NTC sebagai satu-satunya otoritas resmi di Libya. Nigeria juga mendorong pemimpin baru Libya untuk menjaga keamanan warga asing yang tinggal di Libya.
Presiden Nigeria Mahamadou Issoufou yang terpilih pada Maret, dianggap sebagai aliansi Khadafi dan mereka bertemu di Tripoli pada Februari silam. Tuareg juga berada di wilayah Mali dan Burkina Faso yang kedua rezim itu mendapat keuntungan dari bantuan Khadafi.
Sementara itu, juru bicara Khadafi mengatakan bahwa mantan pemimpin Libya itu dalam kesehatan puncak dan berencana membela negaranya. “Khadafi dalam kesehatan yang baik dan sedang merencanakan serta mengorganisir pertahanan Libya,” papar juru bicara Khadafi, Moussa Ibrahim pada saluran televisi Arrai.
“Kami masih kuat. Putra-putra Khadafi juga ikut berperan mempertahankan dan berkorban untuk negaranya,” ungkap Ibrahim yang tidak menyebut nama putra-putra Khadafi.
Ibrahim diduga berada di Bani Walid, wilayah basis pendukung Khadafi yang kini dikepung oleh pejuang NTC. “Kami akan berjuang dan bertahan untuk Libya dan untuk semua bangsa Arab,” tegasnya. Menurut Ibrahim, pemerintahan baru Libya merupakan agen-agen NATO.
Sementara itu NATO menyatakan tidak melacak keberadaan Khadafi di Libya setelah konvoi ratusan kendaraan menuju Nigeria. “Agar jelas, misi kami melindungi populasi sipil di Libya, tidak melacak dan menargetkan ribuan mantan pemimpin rezim yang melarikan diri,” ujar Kolonel Roland Lavoie, juru bicara misi NATO.
“NATO terus menerima laporan dan masukan dari berbagai sumber terkait persenjataan, kendaraan, dan konvoi mobil yang bergerak di Libya. Kami tidak mendiskusikan informasi intelijen dan mata-mata ayng kami kumpulkan, tapi kami mengumumkan aksi-aksi yang kami lakukan saat kami anggap aktivitas itu ancaman bagi populasi sipil,” kata Kolonel Lavoie.
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB akan mendiskusikan berbagai misi untuk Libya pada Jumat (9/9). Misi PBB di Libya termasuk menyangkut sistem peradilan dan persiapan pemilihan umum (pemilu).
“Utusan khusus sekretaris jenderal PBB Ian Martin akan melaporkan pada anggota Dewan Keamanan terkait kunjungannya di Libya. Martin akan meminta ijin Dewan Keamanan untuk misi awal tiga bulan di Libya,” kata juru bicara PBB Ahmed Fawzi.
Para pemimpin di Tripoli dan Benghazi menolak keras masuknya pasukan asing di tanah Libya atau proposal apa pun untuk misi penjaga perdamaian PBB. Pemimpin baru Libya menegaskan mereka tidak perlu menjadi daerah perlindungan PBB seperti bangsa-bangsa pascakonflik lainnya.
Laporan Martin akan mengungkapkan kemungkinan pengiriman penasehat PBB ke Libya untuk membantu menciptakan pasukan kepolisian yang bebas korupsi dan tidak brutal. “Mereka ingin bergerak sangat cepat. Mereka ingin melakukan hal-hal yang benar dan melakukannya dengan benar,” tutur Fawzi. (syarifudin)
Konvoi tersebut memasuki wilayah Sahelian pada Senin (5/9) dan menuju kota Agadez, basis pendukung matnan pemberontak Tuareg yang pernah didukung Khadafi. Kabar tersebut diungkapkan sumber militer lokal.
“Saya melihat satu konvoi yang sangat besar dan jarang ada yang berisi puluhan kendaraan memasuki Agadez dari Arlit dan menuju Niamey,” papar sumber tersebut pada AFP, di tengah dugaan bahwa Khadafi ikut bersama konvoi tersebut. “Ada rumor kuat bahwa Khadafi atau salah satu putranya sedang bersama konvoi itu.” Menurut sumber anonim itu, konvoi itu terdiri atas kendaraan sipil dan militer.
Kepemimpinan baru Libya di Tripoli segera mengonfirmasi kabar tersebut. “Kami dapat mengonfirmasi bahwa konvoi 200 mobil melintas dari Libya ke Nigeria, tapi kami tidak dapat mengonfirmasi siapa yang berada dalam konvoi ini,“ papar Jalal al-Gallal, juru bicara Dewan Transisi Nasional (NTC) di ibu kota Libya, kemarin.
Dia menambahkan, “Tipe konvoi seperti ini biasanya membawa Khadafi atau salah satu putranya.”
Perbatasan terdekat dengan Arlit, kota tambang di Agadez utara, merupakan bagian Aljazair. Konvoi itu mungkin telah meninggalkan wilayah Libya melalui Aljazair tmur sebelum memasuki Nigeria bagian timurlaut.
“Saya melihat satu konvoi berisi puluhan mobil melintasi kota dan menuju Niamey,” kata seorang wartawan dari sebuah stasiun radio swasta di Agadez.
Wartawan itu mengatakan, beberapa orang yang dilaporkan terlihat dalam konvoi tersebut ialah Rhissa Ag Boula, tokoh pemberontak Tuareg yang memiliki hubungan kuat dengan Khadafi. Saat dikonfirmasi, dia menyangkal berada dalam konvoi tersebut. “Saya tidak dalam konvoi, saya di Niamey,” papar Ag Boula melalui telepon pada AFP. Ag Boula berada di Libya setelah kesepakatan 2009 yang dimediasi Khadafi berhasil mengakhiri pemberontakan Tuareg di Nigeria.
Pada Senin (5/9), seorang pejabat pemerintah juga berbicara secara anomim. Menurutnya, konvoi lain yang lebih kecil yang terdiri atas 11 tokoh penting Libya telah tiba di Nigeria. “Muammar Khadafi tidak tidak menjadi bagian delegasi yang tiba di Nigeria, yang terdiri atas tiga warga Nigeria: Agaly Alambo dan dua saudara kandungnya, serta 11 warga Libya, diantaranya ialah Mansour Daw,” papar sumber pemerintah.
Daw merupakan kepala intelijen internal Khadafi dan Alambo merupakan tokoh sejarah dalam pemberontakan Tuareg Nigeria yang memiliki hubungan dengan dengan Khadafi. “Sebanyak 11 warga Libya akan diterima di Niamey dan kami telah mengambil sejumlah langkah untuk ini,” tutur seorang pejabat keamanan.
Saat kekuatan Barat mendukung gerakan pemberontak Libya pada awal tahun ini, Alambo merekrut ratusan mantan pemberontak dari Nigeria untuk berjuang bersama Khadafi yang dianggap warga kawasan Tuareg sebagai tokoh panutan mereka.
Pekan lalu, seorang sumber dari Tuareg mengatakan, orang dekat Khadafi telah tiba di Agadez pada April dengan koper-koper penuh uang untuk merekrut ratusan pemuda. Sumber itu mengatakan, sekitar 1.500 mantan pemberontak Tuareg telah berjuang untuk Khadafi.
Nigeria bulan lalu secara resmi mengakui NTC sebagai satu-satunya otoritas resmi di Libya. Nigeria juga mendorong pemimpin baru Libya untuk menjaga keamanan warga asing yang tinggal di Libya.
Presiden Nigeria Mahamadou Issoufou yang terpilih pada Maret, dianggap sebagai aliansi Khadafi dan mereka bertemu di Tripoli pada Februari silam. Tuareg juga berada di wilayah Mali dan Burkina Faso yang kedua rezim itu mendapat keuntungan dari bantuan Khadafi.
Sementara itu, juru bicara Khadafi mengatakan bahwa mantan pemimpin Libya itu dalam kesehatan puncak dan berencana membela negaranya. “Khadafi dalam kesehatan yang baik dan sedang merencanakan serta mengorganisir pertahanan Libya,” papar juru bicara Khadafi, Moussa Ibrahim pada saluran televisi Arrai.
“Kami masih kuat. Putra-putra Khadafi juga ikut berperan mempertahankan dan berkorban untuk negaranya,” ungkap Ibrahim yang tidak menyebut nama putra-putra Khadafi.
Ibrahim diduga berada di Bani Walid, wilayah basis pendukung Khadafi yang kini dikepung oleh pejuang NTC. “Kami akan berjuang dan bertahan untuk Libya dan untuk semua bangsa Arab,” tegasnya. Menurut Ibrahim, pemerintahan baru Libya merupakan agen-agen NATO.
Sementara itu NATO menyatakan tidak melacak keberadaan Khadafi di Libya setelah konvoi ratusan kendaraan menuju Nigeria. “Agar jelas, misi kami melindungi populasi sipil di Libya, tidak melacak dan menargetkan ribuan mantan pemimpin rezim yang melarikan diri,” ujar Kolonel Roland Lavoie, juru bicara misi NATO.
“NATO terus menerima laporan dan masukan dari berbagai sumber terkait persenjataan, kendaraan, dan konvoi mobil yang bergerak di Libya. Kami tidak mendiskusikan informasi intelijen dan mata-mata ayng kami kumpulkan, tapi kami mengumumkan aksi-aksi yang kami lakukan saat kami anggap aktivitas itu ancaman bagi populasi sipil,” kata Kolonel Lavoie.
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB akan mendiskusikan berbagai misi untuk Libya pada Jumat (9/9). Misi PBB di Libya termasuk menyangkut sistem peradilan dan persiapan pemilihan umum (pemilu).
“Utusan khusus sekretaris jenderal PBB Ian Martin akan melaporkan pada anggota Dewan Keamanan terkait kunjungannya di Libya. Martin akan meminta ijin Dewan Keamanan untuk misi awal tiga bulan di Libya,” kata juru bicara PBB Ahmed Fawzi.
Para pemimpin di Tripoli dan Benghazi menolak keras masuknya pasukan asing di tanah Libya atau proposal apa pun untuk misi penjaga perdamaian PBB. Pemimpin baru Libya menegaskan mereka tidak perlu menjadi daerah perlindungan PBB seperti bangsa-bangsa pascakonflik lainnya.
Laporan Martin akan mengungkapkan kemungkinan pengiriman penasehat PBB ke Libya untuk membantu menciptakan pasukan kepolisian yang bebas korupsi dan tidak brutal. “Mereka ingin bergerak sangat cepat. Mereka ingin melakukan hal-hal yang benar dan melakukannya dengan benar,” tutur Fawzi. (syarifudin)
Turki akan Terapkan Sanksi Baru untuk Israel
ANKARA- Perdana Menteri (PM) Turki Recep Tayyip Erdogan kemarin menyatakan negaranya akan menerapkan sanksi lebih banyak terhadap Israel.
Ancaman itu setelah pengusiran duta besar Israel oleh pemerintah Turki karena rezim Zionis menolak meminta maaf atas penyerbuan di kapal bantuan Mavi Marmara yang menewaskan sembilan warga Turki pada 2010.
Erdogan menegaskan, Turki menunda semua hubungan industri pertahanan dengan Israel setelah memburuknya hubungan diplomatik dua negara. “Hubungan perdagangan, hubungan militer, termasuk hubungan industri pertahanan, kami hentikan sepenuhnya,” tegasnya di Ankara, seperti dikutip BBC. “Proses ini akan diikuti dengan langkah-langkah lain.”
Turki mengusir duta besar Israel pada 2 September dan menunda kerja sama militer dengan Israel pekan lalu. Sikap tegas Turki itu diambil setelah muncul laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan Israel menggunakan kekuatan berlebihan dalam penyerbuan ke kapal bantuan pro-Palestina tersebut. Namun laporan PBB itu membenarkan blokade angkatan laut Israel di Jalur Gaza.
Israel selama ini hanya menyatakan penyesalan atas tewasnya sembilan warga Turki dalam penyerbuan pasukan Israel. Sedangkan Erdogan menganggap penyerangan itu kejam dan menuduh Israel bertindak seperti “bocah pengganggu” di kawasan Timur Tengah.
Turki berjanji membawa kasus itu ke Mahkamah Kriminal Internasional (ICJ) yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda. ICJ merupakan pengadilan permanen yang dimiliki PBB untuk menetapkan keputusan atas konflik antar negara.
Sementara itu, atase militer Israel akan tetap berada di Kedutaan Besar Israel di Turki, meski hubungan dua negara memburuk. “Tidak ada putus hubungan dengan Turki. Buktinya ialah atase militer kami di Ankara akan tetap berada di kantornya dan layanan konsulat akan terus berfungsi,” papar pejabat senior Kementerian Pertahanan Israel Amos Gilad kemarin.
“Solusi untuk krisis ini harus ditemukan. Israel harus mencari penyelesaian melalui koneksi Eropa dan Amerika Serikat (AS), serta melalui NATO,” ujar Gilad.
Di tengah konflik diplomatik tersebut, para pelancong dari Israel menuduh petugas bandara di Istanbul melecehkan mereka. Demikian juga sebaliknya. Pelancong asal Turki mengeluhkan pelecehan serupa oleh petugas bandara Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, sebanyak 40 warganya ditahan selama satu setengah jam untuk diinterogasi di Bandara Internasional Ataturk pada Senin (5/9) sebelum akhirnya dilepaskan. Penumpang pesawat asal Israel mengaku mereka menjadi sasaran penggeledahan seluruh tubuh di bandara Turki.
Sedangkan pelancong asal Turki mengaku harus melalui pemeriksaan keamanan yang panjang di Israel. “Mereka tiba-tiba meminta kelompok dari Bucharest untuk melintas pergi, tapi mereka meminta kami masuk ke ruang khusus. Kami melepas pakaian dan sepatu kami. Mereka memeriksa badan kami dengan tangan mereka, lalu dengan sebuah alat detektor,” ujar Arif Cinar, pelancong asal Turki di Israel. (syarifudin)
Ancaman itu setelah pengusiran duta besar Israel oleh pemerintah Turki karena rezim Zionis menolak meminta maaf atas penyerbuan di kapal bantuan Mavi Marmara yang menewaskan sembilan warga Turki pada 2010.
Erdogan menegaskan, Turki menunda semua hubungan industri pertahanan dengan Israel setelah memburuknya hubungan diplomatik dua negara. “Hubungan perdagangan, hubungan militer, termasuk hubungan industri pertahanan, kami hentikan sepenuhnya,” tegasnya di Ankara, seperti dikutip BBC. “Proses ini akan diikuti dengan langkah-langkah lain.”
Turki mengusir duta besar Israel pada 2 September dan menunda kerja sama militer dengan Israel pekan lalu. Sikap tegas Turki itu diambil setelah muncul laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyatakan Israel menggunakan kekuatan berlebihan dalam penyerbuan ke kapal bantuan pro-Palestina tersebut. Namun laporan PBB itu membenarkan blokade angkatan laut Israel di Jalur Gaza.
Israel selama ini hanya menyatakan penyesalan atas tewasnya sembilan warga Turki dalam penyerbuan pasukan Israel. Sedangkan Erdogan menganggap penyerangan itu kejam dan menuduh Israel bertindak seperti “bocah pengganggu” di kawasan Timur Tengah.
Turki berjanji membawa kasus itu ke Mahkamah Kriminal Internasional (ICJ) yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda. ICJ merupakan pengadilan permanen yang dimiliki PBB untuk menetapkan keputusan atas konflik antar negara.
Sementara itu, atase militer Israel akan tetap berada di Kedutaan Besar Israel di Turki, meski hubungan dua negara memburuk. “Tidak ada putus hubungan dengan Turki. Buktinya ialah atase militer kami di Ankara akan tetap berada di kantornya dan layanan konsulat akan terus berfungsi,” papar pejabat senior Kementerian Pertahanan Israel Amos Gilad kemarin.
“Solusi untuk krisis ini harus ditemukan. Israel harus mencari penyelesaian melalui koneksi Eropa dan Amerika Serikat (AS), serta melalui NATO,” ujar Gilad.
Di tengah konflik diplomatik tersebut, para pelancong dari Israel menuduh petugas bandara di Istanbul melecehkan mereka. Demikian juga sebaliknya. Pelancong asal Turki mengeluhkan pelecehan serupa oleh petugas bandara Israel.
Kementerian Luar Negeri Israel mengatakan, sebanyak 40 warganya ditahan selama satu setengah jam untuk diinterogasi di Bandara Internasional Ataturk pada Senin (5/9) sebelum akhirnya dilepaskan. Penumpang pesawat asal Israel mengaku mereka menjadi sasaran penggeledahan seluruh tubuh di bandara Turki.
Sedangkan pelancong asal Turki mengaku harus melalui pemeriksaan keamanan yang panjang di Israel. “Mereka tiba-tiba meminta kelompok dari Bucharest untuk melintas pergi, tapi mereka meminta kami masuk ke ruang khusus. Kami melepas pakaian dan sepatu kami. Mereka memeriksa badan kami dengan tangan mereka, lalu dengan sebuah alat detektor,” ujar Arif Cinar, pelancong asal Turki di Israel. (syarifudin)
Langganan:
Postingan (Atom)