Cari di Sini

Senin, 06 September 2010

Pengirim SMS Tercepat di Dunia




Siapakah pengirim SMS (pesan singkat melalui telepon seluler) tercepat di dunia? Dialah Ha Mok-min, perempuan asal Korea Selatan (Korsel) yang pada 14 Januari memenangkan kontes dunia mengirim SMS tercepat di New York, Amerika Serikat (AS).

Saat mulai belajar di kelas bahasa Inggris yang dia ikuti selama libur musim dingin, Ha mengaku merasa jantungnya berdetak layaknya senapan mesin yang sedang menyala. Tentu saja, dia sangat gembira mendapatkan juara pertama dalam kontes yang digelar LG Electronics, perusahaan pembuat telepon seluler asal Korsel itu. Ha, 16, dapat merasakan perasaan teman-temannya yang cemburu karena dia meraih gelar internasional dari kontes tersebut.

“Mereka datang dengan telepon selulernya dan mengira dapat mengalahkan saya. Saya biarkan mereka mencoba,” papar Ha dengan roman muka datar.

Ha memang tidak sendirian sebagai pemenang kontes, karena dia bermain dalam satu tim bersama pelajar lain asal Korsel, Bae Yeong-ho. Keduanya mengharumkan nama Korsel dengan ibu jari mereka. Tim mereka menang dalam kompetisi yang menobatkan pengirim sms paling cepat dan paling akurat di dunia.

“Ketika orang-orang melihat saya mengirimkan sms, mereka pikir saya tidak secepat yang mereka duga dan mereka mengira dapat melakukan lebih baik. Sejauh ini saya tidak pernah kalah dalam pertandingan mengirim sms,” kata Ha dan Bae.

Dalam kompetisi itu, Ha dan Bae mampu mengetik sms enam karakter dalam satu detik. “Jika saya dapat berpikir lebih cepat, saya dapat mengetik sms lebih cepat,” ujar Ha.

Ha dan Bae berhasil mengalahkan tim dari 13 negara yang mempertaruhkan gelar mereka setelah mengalahkan enam juta peserta dari seluruh dunia. Dalam pertandingan itu, semua tim tampil dengan membentangkan bendera nasional di belakang mereka di sebuah gedung di New York pada 14 Januari.

Untuk memastikan pertandingan berjalan adil, LG memberikan dua telepon seluler (ponsel), satu ponsel dengan papan ketik numerik dan satu ponsel dengan papan ketik QWERTY. Ponsel itu diberikan pada semua anggota tim, beberapa pekan sebelum pertandingan dimulai. Tujuannya untuk memberi kesempatan mereka berlatih.

Selama berpekan-pekan sebelum pertandingan, Ha tidak dapat dilepaskan dari ponselnya. Dia terus melatih kecepatannya mengetik dan mengirimkan sms setiap hari.

Dalam lomba, peraturannya sederhana. Semua peserta harus mengetik sama dengan kata-kata yang muncul di layar, baik itu abjad mau pun simbol, secepat mungkin. Walau semua peserta memiliki asal negara yang berbeda-beda, mereka dapat memilih sesuai bahasa masing-masing. Tentu saja, banyaknya karakter huruf yang harus mereka ketik jumlahnya sama.

Ha mengakui pertandingan dunia itu sangat berat karena lawan-lawannya juga memiliki kecepatan ibu jari yang luar biasa. Ha dan Bae harus melalui lima tahap pertarungan dalam final. Masing-masing tim menggunakan nama-nama seperti “The Monsters’ Swamp” dan “Race of Death.”

Setelah melalui masa latihan yang berat dan pertarungan sengit, Ha dan Bae akhirnya mengakhiri pertarungan dengan menyabet gelar sebagai pengirim sms tercepat di dunia. tim dari Amerika Serikat berada di urutan kedua dan tim dari Argentina di urutan ketiga.

Saat pulang ke Korsel, Ha disambut bak pahlawan besar yang mengharumkan nama Korea. Ha dan Bae masing-masing mendapatkan penghargaan uang tunai sebesar USD50.000 (Rp470 juta).

Kemenangan Ha itu kian mempopulerkan sebuah gaya hidup anak-anak muda Korea yang dikenal dengan sebutan “suku ibu jari.” Gaya hidup itu menunjukkan bahwa pemuda Korea merasa lebih senang mengirimkan pesan melalui sms daripada berbincang-bincang langsung.

Ha dan Bae memang dikenal sebagai penggila sms. Dalam sehari, Ha bisa mengirimkan 150 sms hingga 200 sms. Sedangkan Bae biasa mengirimkan 200 hingga 300 sms per hari.

“Jumlah sms sebanyak itu merupakan jumlah rata-rata yang dikirimkan teman-teman saya. Beberapa orang bahkan mengirimkan lebih dari 500 sms per hari,” ujar Ha sambil tersenyum, ditemani ibunya yang duduk di dekatnya.

Nama Ha telah terkenal di negara itu, jauh sebelum kompetisi internasional itu digelar bulan ini. Ha pernah memenangkan gelar nasional Korsel, mengalahkan 2,8 juta peserta. Ha menang dengan kecepatan mengirimkan 7,25 karakter per detik. Ini merupakan skor terbaik karena lawan-lawan Ha rata-rata hanya memiliki kecepatan mengirimkan 2,2 karakter per detik.

“Saya mengirimkan sms saat berjalan, makan, dan menonton TV,” papar Ha.

Bahkan, saat tidak memegang ponsel pun, Ha duduk sambil kedua ibu jarinya bergerak seperti siap memencet tombol-tombol imajiner. “Di sekolah, kami biasa melihat dan mendengarkan guru sambil mengirimkan sms melalui ponsel kami di bawah meja atau di dalam saku baju kami. Tidak ada kesalahan kirim sedikit pun,” kata Ha.

Perilaku mengirim sms di saat guru mengajar itu membuat banyak pelajar, termasuk Ha, kadang dimarahi guru-gurunya. Tapi kemenangan Ha dalam kontes internasional itu mungkin akan mengobati kemarahan para guru tersebut.

Lebih menarik lagi, Ha ikut dalam kompetisi internasional itu secara tidak sengaja. Oktober tahun lalu, dia dan temannya sedang berjalan-jalan di Coex Mall, tempat nongkrong anak-anak muda di Seoul bagian selatan. saat itu dia melihat informasi tentang kompetisi nasional sedang digelar.

Ha pun ikut mendaftar, berharap mendapatkan tiket bioskop gratis atau hadiah hiburan lain. Tapi akhirnya, dia malah mendapatkan hadiah utama sebesar USD17.000 (Rp 160 juta). Peristiwa itu lantas membawanya menuju kontes internasional selanjutnya. (syarifudin, sindo 29 januari 2010)

Tahan Nafas 19 Menit 21 Detik, Pecahkan Rekor Dunia




Kebahagiaan terpancar dari wajah penyelam bebas (freediver) asal Swiss, Peter Colat, 38, karena dia berhasil memecahkan rekor dunia menahan nafas di bawah air selama 19 menit 21 detik.

Tanpa ada masalah sedikit pun, dia memecahkan rekor sebelumnya yang dipegang warga Italia Nicola Putignano, dengan selisih 19 detik. “12 Menit pertama tanpa udara, tidak masalah,” ujar Colat singkat, setelah keluar dari kolam air di tempat wisata St Gallen, Swiss.

Berdasarkan peraturan yang ditetapkan Guinness World Records, Colat diijinkan menghirup oksigen murni selama sepuluh menit sebelum terjun ke air pada 15 Februari silam. Oksigen murni itu, menurut Colat, memberikan kekuatan tambahan padanya untuk menahan nafas lebih lama di dalam air. “Yang pertama saya lakukan ialah bernafas dengan sangat lambat, karena ini membuat saya semakin kuat,” paparnya.

Tentu saja, Colat merasa sangat bangga dengan prestasinya terbaru. “Saya sangat senang,” ujarnya singkat.

Sebenarnya, ini bukan kali pertama Colat berusaha memukau dunia dengan aksi pemecahan rekor. Sebelumnya, pada 2008, Colat pernah mencatatkan rekor dunia sebagai penyelam yang mampu menahan nafas selama 16 menit 32 detik.

Namun rekor Colat itu dipecahkan lagi oleh seorang pesulap David Blaine pada 2008 yang mampu menahan nafas di dalam air selama 17 menit 4 detik. Hingga kemudian, rekor Blaine pun dipecahkan Nicola Putignano.

Salah satu rahasia keberhasilan Colat ialah kemampuannya memasuki situasi tubuh yang sangat rileks sehingga dapat mengurangi konsumsi oksigen. Colat memperingatkan, upaya pemecahan rekor menahan nafas memiliki resiko yang sangat berbahaya, bahkan mematikan.

Menurut Colat, jika cadangan oksigen di dalam tubuh berkurang hingga level kritis, seseorang dapat mengalami kecemasan, pinggan, tidak dapat merasakan indera di tubuhnya, atau tidak mendengar suara-suara yang didengarnya.

Karena itu Colat mengingatkan agar seseorang yang ingin mencobanya, harus dalam pengawasan tenaga medis. Tanpa ada pengawas medis, Colat khawatir seseorang yang mencoba menahan nafas dalam waktu lama akan mengalami resiko terburuk.

Colat menjelaskan, menyelam bebas merupakan teknik menyelam tanpa bantuan tabung udara dan hanya mengandalkan kekuatan menahan nafas. Gaya menyelam bebas telah lama ada sejak 4.500 tahun silam dan dipraktekkan oleh orang-orang sejak dulu untuk mencari ikan atau kerang di laut. “Saat ini teknik menyelam bebas dilengkapi dengan beberapa peralatan seperti sepatu sirip serta kacamata selam yang menutup mata dan telinga,” paparnya.

Pria kelahiran 1971 itu memang sangat mencintai olah raga menyelam bebas. Awalnya, pada 1995, Colat bersama teman-temannya berlibur di Korfu, Yunani. Mereka pun menyelam di dalam kolam dengan dukungan bantuan tabung oksigen.

Saat itu, Colat mampu menyelam lebih lama daripada teman-temannya, padahal tabung oksigen yang mereka gunakan memiliki kapasitas oksigen yang sama. Teman-temannya pun memuji kekuatan Colat menghemat pemakaian oksigen di dalam tabung selam.

Colat lantas melatih dirinya untuk menahan nafas di dalam air secara bertahap. “Pertama kali, saya mulai berlatih menahan nafas satu setengah menit dan terus berlatih hingga di akhir liburan di Yunani itu, saya mampu menahan nafas selama 3 menit 20 detik,” ujarnya.

Saat tiba di rumahnya di Swiss, Colat semakin banyak berlatih menahan nafas, karena ternyata kemampuan itu sangat penting bagi olah raga menyelam, terutama menyelam bebas.

Colat terus mendalami olahraga menyelam bebas karena di Swiss banyak pusat pelatihannya. Dari sanalah, Colat sering mengikuti berbagai kompetisi menyelam bebas, hingga akhirnya bertekad memecahkan rekor dunia sebagai orang paling lama menahan nafas di air.

Dalam biografinya, Colat menjelaskan bahwa keterlibatannya dalam kompetisi menyelam dimulai pada Juni 1998, saat dia masuk dalam tim kedua pertandingan dunia menyelam bebas di Sardinia. Saat itu Colat memang belum mendapatkan prestasi apa pun karena dia baru mengerap pengalaman dalam pertandingan dunia.

Awal prestasinya diraih saat dia berpartisipasi dalam kompetisi menyelam dunia pada Agustus 1998 di Streckentauchen. Saat itu dia mendapatkan juara keempat dalam kategori menyelam di laut dengan memakai sepatu sirip dengan kedalaman 86 meter. Sejak saat itulah, berbagai prestasi terus dia kumpulkan hingga akhirnya mampu memecahkan rekor dunia menahan nafas terlama di air.

Colat pernah menerima berbagai penghargaan dalam kompetisi menyelam bebas, termasuk dalam kompetisi dunia di Denmark pada Agustus 2009. Dia pernah mencatatkan rekor di Streckentauchen dalam menyelam bebas sedalam 127 meter tanpa memakai sepatu sirip selam. Dia memecahkan rekor yang diukirnya sendiri, empat bulan sebelumnya.

Pada April 2009, Colat meraih juara pertama dalam Swiss championships 2009 Indoor di semua kategori. Selain itu, pada bulan yang sama, dia pun mencatatkan rekor menyelam sedalam 118 meter tanpa sepatu sirip selam. Selain itu, berbagai penghargaannya lebih banyak lagi.

Colat mengakui, banyaknya kompetisi menyelam membuatnya semakin termotivasi untuk mengukir prestasi. Dalam berbagai kategori dan penilaian di semua kompetisi, Colat selalu berusaha menjadi yang terbaik. (syarifudin, sindo 19 februari 2010)

Jual Komik Superman Seharga Rp9,4 Miliar




Sejak mulai menjual buku komik di usia 16 tahun, Vincent Zurzolo hanya bermimpi menjual satu juta eksemplar komik.

Tapi, Senin (22/2) lalu merupakan hari keberuntungannya. Pendiri situs lelang ComicConnect.com itu berhasil menjual satu eksemplar komik Superman seharga USD1 juta (Rp9,4 miliar). “Ini merupakan hari paling penting dalam sejarah komik,” ungkap Zurzolo.

Zurzolo mengiklankan satu eksemplar komik yang pertama kali mengenalkan tokoh Superman, Action Comics #1 (edisi pertama), di situsnya pada Senin pagi (22/2). Komik itulah yang pertama kali menceritakan tokoh Manusia Baja alias Superman pada 1938.

Komik super langka yang dilelang Zurzolo itu merupakan milik seorang kolektor yang namanya dirahasiakan. “Hanya dalam waktu satu menit setelah lelang itu dibuka, seorang kolektor komik lainnya langsung membelinya seharga USD1 juta,” papar Zurzolo.

Menurut Zurzolo, harga fantastis itu tiga kali lipat melampaui rekor penjualan komik pada tahun lalu. Saat itu, versi lain Action Comics #1 dengan kualitas yang kurang bagus, dilelang melalui ComicConnect seharga USD317.200 (Rp3 miliar).

Karena itu, bagi Zurzolo, penjualan komik Action Comics #1 yang memiliki kondisi kertas masih sangat baik, merupakan sesuatu yang wajar. Apalagi, saat ini diketahui hanya ada 100 eksemplar Action Comics #1 yang masih tersisa di dunia. “Dari jumlah tersebut, hanya dua eksemplar yang memiliki bentuk masih bagus,” papar Zurzolo.

Sebagai penggemar komik, Zurzolo mengaku, memiliki komik-komik langka merupakan kebanggaan tersendiri. Bahkan, Zurzolo menjelaskan, saat ini pembeli komik-komik langka tidak hanya para penggemar setia komik. Komik-komik langka turut menjadi barang rebutan para kolektor barang antik, lukisan, koin-koin langka, bahkan para investor pasar modal.

Zurzolo mengakui, mereka yang bukan penggemar komik pun ikut membeli komik-komik langka sebagai bentuk investasi baru di saat resesi ekonomi. “Saat Anda melihat apa yang terjadi di bidang real estate, pasar saham, dan perbankkan, orang-orang panik. Mereka tidak menghasilkan keuntungan dengan menyimpan uang di bank-bank. Mereka tidak yakin tentang pasar saham dan real estate, seperti bermain judi,” katanya.

“Dengan membeli buku-buku komik, investor merasa lebih percaya diri. Kini kami telah mencapai tahap di mana Anda dapat menyamakan komik-komik langkah setara dengan karya-karya seni tersohor,” ujar Zurzolo.

Sebagai buktinya, Zurzolo menjelaskan, pada 15 tahun silam, satu eksemplar Action Comics #1 yang terjual pada Senin (22/2), dibeli seharga USD150.000 (Rp1,4 miliar). Pada saat terbit pertama kali pada 1938, komik itu hanya dijual seharga 10 sen dolar. Dengan melihat peningkatan harga itulah, masuk akal jika komik disebut Zurzolo sebagai bentuk investasi baru yang sangat menguntungkan.

Keberhasilan Zurzolo mendorong komik-komik langka sebagai investasi baru itu berkat kecintaannya pada buku cerita bergambar tersebut. Pria yang lahir 23 April 1971 di Brooklyn, New York, itu memang sejak kecil sangat keranjingan komik.

Dia mulai mencintai komik saat membaca koleksi kakak-kakak kandungnya. “Saya memiliki dua kakak, Jerry dan Sal. Kakak sayalah yang membuat saya mulai membaca komik. Saya suka berada di ruang bawah tanah rumah kami saat musim panas, karena ruang itu selalu lebih dingin dari ruang lain. Selain itu juga gelap serta misterius. Di tempat itulah komik-komik kakak saya disimpan,” papar Zurzolo.

Komik pertama yang dibaca Zurzolo ialah Uncanny X-Men edisi 95-100, Giant Size X-Men edisi 1, Incredible Hulk edisi 180-182 dan Iron Man edisi 1.

Karena suka membaca komik, dia terus menambah koleksi dengan membeli komik-komik baru. “Sejak usia empat atau lima tahun, saya ingat selalu pergi ke toko permen dekat rumah. Toko itu milik orang China. Saya membeli apa pun komik yang ada di rak toko itu. Semua berawal dari sana,” papar Zurzolo.

Beruntung, orang tua Zurzolo mendukung hobinya. “Orang tua saya tidak keberatan jika saya mengoleksi komik. Saya tidak pernah meminta uang untuk macam-macam, selain untuk membeli buku-buku dan komik,” katanya.

Beranjak dewasa, Zurzolo mulai memikirkan cara mendapatkan keuntungan dari hobinya itu. Maka, sejak usia 16 tahun, Zurzolo mencoba menjadi pedagang komik. Tahun demi tahun dilalui, sembari membangun reputasi bisnisnya. Hingga saat bertemu rekannya, Stephen Fishler, yang juga seorang pecinta komik, keduanya memutuskan membuat perusahaan baru, Metropolis Collectibles.

Melalui perusahaan itulah Zurzolo terus mendorong minat publik dunia untuk menganggap komik-komik sebagai lahan investasi masa depan. Zurzolo meyakinkan publik bahwa berinvestasi dengan membeli komik-komik langka, lebih aman daripada berinvestasi di pasar modal yang mudah bergejolak oleh kondisi politik, ekonomi, dan sosial.

Hingga begitu cintanya pada dunia komik, Zurzolo menyebut tempat tinggalnya saat ini di Manhattan, sebagai “Daredevil’s backyard,” Hell’s Kitchen.

Bagi para kolektor baru atau orang yang berminat menjadi kolektor komik, Zurzolo memberi saran. “Koleksi komik terbaik yang Anda temukan dan koleksi yang Anda cintai. Ciptakan strategi, rencana untuk apa yang ingin Anda miliki, termasuk anggaran Anda juga,” katanya.

Zurzolo menyarankan, sisakan 10% anggaran untuk “lain-lain” sehingga Anda dapat membeli komik yang tidak termasuk daftar utama yang ingin Anda koleksi. “Carilah banyak informasi dan jalin hubungan dengan para penggemar komik,” tuturnya. (syarifudin, sindo 26 februari 2010)

Jadikan Kulit Manusia Sebagai Layar Sentuh




Bagi siapa saja yang mendapati layar sentuh (touchscreen) di perangkat elektronik (gadget) mereka terlalu rumit dan sering terjadi kesalahan saat ditekan, jangan khawatir. Chris Harrison telah mengembangkan permukaan baru layar sentuh yang lebih nyaman dan mudah, kulit Anda sendiri.

Peneliti asal Carnegie Mellon University itu bekerja sama dengan Microsoft Research untuk menciptakan sebuah ban lengan yang dipasang menghadap langsung ke kulit pengguna. Harrison menyebut teknologi canggih itu Skinput.

Harrison mengombinasikan sebuah proyektor mini yang menciptakan perubahan tampilan dengan satu sensor canggih yang dapat memproses bagian lengan pengguna yang ditekan.

“Ini merupakan teknologi mutakhir dan kami benar-benar melihat masa depan dengan penemuan ini,” papar Harrison.

Menurut Harrison, Skinput dapat digunakan untuk mengontrol peralatan audio, memainkan game sederhana seperti Tetris, melakukan panggilan telepon dan menjalankan sistem browsing sederhana. “Proyek ini berjalan sangat baik dan saya pikir Anda akan mulai melihat gadget di pasaran menggunakan teknologi ini dalam lima tahun ke depan,” tuturnya.

Harrison menjelaskan, gadget canggih itu dapat secara efektif menjadikan lengan seseorang sebagai permukaan layar sentuh dengan menangkap berbagai gelombang ultrasonik yang tercipta saat seseorang menekan lengan di bagian-bagian berbeda.

“Lokasi berbeda di permukaan kulit, memiliki struktur akustik yang berbeda pula, karena kepadatan tulang efek dari jaringan lunak atau gabungan dari semua itu. Kami lantas menggunakan software yang mencocokkan frekuensi suara untuk menentukan lokasi kulit pengguna,” ujar Harrison.

Skinput dapat digabungkan dengan teknologi nir kabel (wireless) seperti Bluetooth untuk mengirimkan perintah ke peralatan yang dikendalikan, seperti telepon, iPod, atau komputer. “Kulit kita merupakan sebuah kanvas input dan itulah yang selalu terjadi dalam tubuh kita. Di masa depan, kita dapat secara akurat berinteraksi dengan tubuh kita dengan sekali gerakan mata,” papar Harrison.

“Kita dapat menjentikkan jari kita, menyentuh ujung hidung kita, dan menepukkan tangan tanpa bantuan visual,” katanya.

Menurut peneliti muda itu, sensor mampu menangkap dua jenis sinyal akustik yakni gelombang garis melintang dan gelombang longitudinal. Gelombang melintang tercipta saat pengguna menekan kulitnya seperti tombol, sedangkan gelombang longitudinal tercipta saat gelombang itu melalui jaringan tipis di lengan dan tingkat kepadatan tulang.

“Saat ini detektor akustik dapat mendeteksi lima lokasi di kulit dengan akurasi 95,5%, yang cukup untuk semua aplikasi elektronik. Kami mencapai akurasi input yang sangat tinggi di laboratorium, dengan satu kesalahan dalam 20 tekanan. Ini sama dengan apa yang terjadi di layar sentuh iPhone,” kata Harrison.



Harrison menggunakan 20 sukarelawan untuk menguji peralatan canggih itu. Semua mengakui kemudahan penggunaan alat tersebut. bahkan, Skinput dapat bekerja dengan maksimal, saat pengguna berjalan atau berlari.

“Ada banyak potensi pasar untuk Skinput. Salah satunya, sebagai audio player di lengan atas Anda. Pengguna tidak memerlukan banyak tombol, cukup menggunakan kulitnya sebagai layar sentuh. Anda hanya perlu menekan jari Anda untuk pindah ke lagu berikutnya, mengubah volume suara, atau menghentikan lagu yang sedang didengarkan,” tuturnya.

Harrison merupakan salah satu peneliti tersohor di dunia yang mengembangkan berbagai teknologi, menggunakan bagian-bagian tubuh sebagai peralatan input. Kini, Harrison sangat tertarik untuk memanfaatkan kulit manusia sebagai media input gadget canggih.

Bagi Harrison, kulit manusia merupakan media yang sangat canggih dengan luas sekitar dua meter persegi. Selain itu, kulit juga mudah diakses oleh kedua tangan manusia.

Di tengah kesibukannya melakukan penelitian, alumnus Human-Computer Interaction Institute di Carnegie Mellon University itu juga menjadi pemimpin redaksi majalah ACM XRDS. Majalah untuk pelajar dan mahasiswa itu banyak mengkaji tentang teknologi modern dan diluncurkan pada musim panas 2010.

Ketertarikannya di dunia penelitian dimulai sejak sekolah menengah atas (SMA). Saat di SMA, dia membuat penelitian tentang mobil bajai di India. “Saya mengarahkannya untuk mengkaji polusi kendaraan bermotor dan kendaraan listrik,” kata Harrison.

Harrison saat itu sangat tertarik dengan aktivitas perusahaan lokal Curtis Instruments di sebuah proyek motor bajai listrik di India. “Saya pun pergi ke India dan memahami masalah polusi motor bajai dan teknologi mobil listrik yang diperlukan untuk proyek semacam itu,” katanya.

Topik penelitian pertama Harrison saat itu diberinya judul “Dampak Bajai Listrik di Negara Berkembang”, khususnya terhadap polusi udara di kota. Itulah tema penelitian pertama saat SMA yang kemudian membawanya lebih tertarik dalam penelitian-penelitian lain mengenai teknologi terapan. (syarifudin, sindo 5 maret 2010)

Ciptakan Steker Lipat yang Ramping dan Aman




Semuanya berawal dari satu benda yang sering membuat frustrasi setiap hari, steker listrik model tiga kaki di Eropa.

Tapi, Min-Kyu Choi berhasil memenangkan penghargaan desain paling bergengsi di dunia, Brit Insurance Designs of the Year Award 2010, justru karena mendesain steker lipat. Penghargaan itu dianugerahkan pada Rabu malam (17/3).

Desain steker lipat milik Choi dianggap telah mengakhiri 64 tahun bentuk steker lama yang besar, tidak praktis, dan berat. Padahal, menurut Choi, perkembangan teknologi saat ini telah menciptakan peralatan elektronik (gadget) yang ramping. Berbagai peralatan elektronik yang berbentuk ramping, selama ini tetap terpaksa menggunakan bentuk steker lama yang berukuran besar.

Karena itu, temuan Choi merupakan revolusi besar yang telah ditunggu publik Eropa selama lebih dari enam dekade. Para pengguna laptop atau gadget terkecil di dunia, dapat tersenyum lega. Mereka dapat lebih mudah bepergian membawa gadget mereka tanpa harus direpotkan dengan bentuk steker listrik yang besar.

“Steker lipat ini cukup ramping hingga dapat dimasukkan dalam amplop,” papar Choi.

Kreativitas Choi untuk menciptakan steker lipat, telah dilirik beberapa perusahaan besar untuk diproduksi dalam skala luas. Choi belum mau menjelaskan perusahaan mana saja yang telah menawari untuk membeli hak patennya.

Tentu saja, perusahaan mana pun yang akan menggunakan desainnya, harus membayar royalti pada Choi. Dapat dibayangkan, Choi akan segera menjadi miliarder dari desain steker lipatnya.

Sejak penemuan steker pada 1946, menurut Choi, orang-orang tidak lagi memikirkan betapa benda tersebut cukup merepotkan banyak orang, terutama di Inggris atau negara-negara Eropa yang menggunakan model steker dengan tiga kaki di semua peralatan elektronik.

“Saat steker model lama itu menciptakan goresan pada laptop baru (Macbook) saya, saya memutuskan jangan sampai hal itu terulang lagi. Saya sangat kesal saat steker model lama itu menggores laptop saya. Saya pun mencoba merancang desain steker yang ramping sebagai alternatif,” papar Choi yang lulus dari sekolah desain tahun lalu.

Mahasiswa asal Bayswater, London Barat, itu menjelaskan, “Saya pikir, satu ide yang bagus untuk menciptakan steker yang dapat dilipat dan berbentuk datar, sehingga kaki-kaki steker itu tidak menciptakan kerusakan apa pun pada benda lain. Selain itu, steker itu pun harus ramping, sama rampingnya dengan laptop itu.”

Jika steker model standar memiliki ketebalan 4,5 centimeter, steker desain Choi memiliki ketebalan hanya 1 centimeter saat dilipat. Saat dipakai, steker itu dapat dimegarkan dua sayap pelindung di kanan dan kiri, lantas dua kaki di bagian bawah, dapat diputar tegak lurus dengan satu kaki di atasnya. Jika mau disimpan, steker itu dapat dilipat lagi hingga bentuknya kembali menjadi ramping, setebal 1 centimeter.

Karya desain yang sederhana namun luar biasa itu, berhasil mengalahkan para pesaing lain yang ikut dalam kompetisi desain dunia tersebut. Choi mampu mengalahkan 90 karya desain dari peserta lain di penjuru dunia. Bahkan, Choi berhasil mengalahkan kandidat kuat, desainer fashion tersohor Alexander McQueen yang menampilkan koleksi terakhirnya, dalam perebutan penghargaan bergensi itu.

Banyak pihak memuji karya mahasiswa Royal College of Art, London, itu. “Desain karya Choi dapat menciptakan perbedaan besar dalam kehidupan semua orang,” papar ketua tim juri Antony Gormley. Selain Gormley, tim juri terdiri atas desainer Tom Dixon, editor majalah Wired David Rowan dan tokoh penyiaran Janet Street-Porter.

Menurut Gormley, temuan Choi sama seperti karya Percy Shaw yang menciptakan “Mata Kucing” untuk jalanan. Dengan temuan “Mata Kucing” itulah Shaw menjadi multi jutawan. Mata Kucing merupakan bagian dari rambu-rambu jalan yang dapat menyala saat terkena sorotan lampu mobil. Mata Kucing ditempatkan di jalanan atau pinggir jalan sehingga pengendara dapat mengemudi lebih aman karena mengetahui batas atau bahu jalan.

“Temuan Choi hebat, dapat bekerja, terlihat bagus, dan saya yakin, temuan itu akan membuatnya menjadi pria yang kaya raya jika dipasarkan dengan tepat,” papar Deyan Sudjic, direktur Design Museum yang mengorganisir penghargaan tersebut.

Choi mulai tertarik dengan dunia desain sejak dia sering mengamati berbagai peralatan yang digunakannya sendiri. Dia kemudian merasa cocok untuk terjun lebih serius mendalami ilmu tentang desain terapan yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Mahasiswa berkaca mata itu mengaku sangat senang jika karya desainnya dapat memudahkan kehidupan orang lain. Dia tidak ingin jika desainnya hanya menjadi barang pajangan, tanpa dapat dimanfaatkan oleh orang lain.

Choi memilih belajar di Royal College of Art karena di sana banyak mengkaji berbagai desain terapan yang dapat diproduksi secara massal. Itu artinya, jika karya desainnya sangat fungsional dan marketable, Choi memiliki peluang besar untuk meraup pundi-pundi kekayaan dari desain yang dipatenkannya. (syarifudin, sindo 19 maret 2010)