Cari di Sini

Selasa, 23 April 2013

Riset, Strategi Samsung Kuasai Dunia



Awalnya, Samsung Electronics hanya menguasai 10% pasar telepon seluler di Korea Selatan (Korsel). Saat itu Motorola menguasai 60% pasar Korsel. Namun dengan strategi jitu, Samsung bangkit sebagai penguasa pasar smartphone, tidak hanya Korsel tapi di dunia. 
April ini pun menjadi bulan yang menggembirakan bagi Samsung Electronics. Pasalnya, produsen smartphone asal Korea Selatan (Korsel) bulan ini mengumumkan perkiraan laba hingga USD7,7 miliar, naik 52,9% dari kuartal pertama 2012.

Para penggemar smartphone juga ikut tersenyum karena Samsung pada Jumat (11/4) meluncurkan telepon pintar terbesar yang pernah ada di dunia. Smartphone yang disebut Galaxy Mega itu dilengkapi layar 6,3 inchi atau 16 cm. Samsung menyebut ukuran sebesar itu ideal untuk menonton video atau menjalankan dua aplikasi secara berdampingan.

Perusahaan itu sebelumnya berhasil mempopulerkan kategori yang disebut “phablet” yakni telepon yang mendekati dimensi tablet. Phablet itu sukses dengan keluarnya Galaxy Note pada 2011 yang memiliki layar 5,3 inchi. Sejak peluncurannya, phablet itu semakin populer, melebihi perkiraan banyak pengamat. Namun analis menilai seri terbaru Samsung mungkin menjadi langkah yang terlalu jauh.

Analis teknologi Chris Green mengatakan bahwa sebagian besar pengguna smartphone mungkin enggan mengganti miliknya dengan yang lebih besar. “Ada permintaan untuk smartphone yang lebih besar. Masalahnya ialah apa untungnya smartphone berubah jadi tablet. Tapi tanpa melihat fungsinya sebagai telepon, semua peralatan smart itu terlihat sangat fenomenal,” ujarnya.

Samsung merupakan pembuat smartphone paling populer pada 2012, mencakup 30,3% dari total pengiriman produk telepon pintar di dunia. Adapun Apple yang produk terbesarnya hanya memiliki layar selebar 4 inchi, saat ini berada di peringkat kedua dengan menguasai 19,1% pasar global.

“Perusahaan Korsel itu juga memperkirakan menjual 25 juta smartphones tiap bulan pada 2013. Itu artinya, penjualan tiap kuartal mencapai lebih dari 70 juta unit,” papar firma riset pasar Counterpoint Research.    

Perjalanan Panjang
Semua keberhasilan itu tentu tidak tercapai semudah membalik telapak tangan. Ada proses yang panjang dan penuh tantangan hingga Samsung begitu diperhitungkan di dunia saat ini. Samsung Electronics merupakan bagian dari Samsung Group yang didirikan Lee Byung-chull pada 1938 sebagai perusahaan perdagangan. Tiga dekade kemudian, grup itu melakukan diversifikasi ke berbagai bidang, termasuk pembuatan makanan, tekstil, asuransi, sekuritas, dan ritel.

Perusahaan itu memasuki industri elektronik pada 1969 dengan mendirikan Samsung Electric Industries. Grup itu juga memasuki industri konstruksi dan pembuatan kapal pada pertengahan 1970-an. Berbagai pengembangan itu mendorong pertumbuhan perusahaan itu selanjutnya.

Setelah Lee meninggal dunia pada 1987, Samsung dipisah menjadi empat grup bisnis yakni Samsung Group, Shinsegae Group, CJ Group dan Hansol Group. Pada 1960-an, Samsung Group memasuki industri elektronik dan membentuk sejumlah divisi terkait elektronik antara lain Samsung Electronics Devices Co., Samsung Electro-Mechanics Co., Samsung Corning Co., dan Samsung Semiconductor & Telecommunications Co., serta membuat pabriknya di Suwon, Korsel. Produk pertamanya ialah televisi hitam putih, kalkulator, lemari pendingin, mesin cuci, pengatur suhu udara (air conditioners).

Tantangan dan Strategi
Samsung Electric Industries lantas merjer dengan Samsung Semiconductor & Communications untuk membentuk Samsung Electronics. Samsung Electronics meluncurkan produk pertama berupa telepon seluler pada 1988 di pasar Korsel. Penjualan awalnya sangat buruk dan masih kalah dengan Motorola yang menguasai 60% pasar Korsel. Pada 1990-an, Samsung hanya menguasai 10% pasar telepon seluler.

Tidak hanya harus mengalahkan Motorola, produk Samsung harus memperbaiki kualitas produk yang kurang diminati pasar pada pertengahan 1990-an. Masalah ini kerap menjadi bahan diskusi dalam perusahaan itu. 

Salah satu hasil diskusi itu ialah Samsung Electronics pada 1980-an menyadari pentingnya riset dan pengembangan (research and development/R&D). Mereka lantas berinvestasi besar-besaran di bidang itu untuk menjadikan perusahaan tersebut menjadi yang terdepan dalam industri elektronik global. Samsung Electronics lantas mengakuisisi 40% saham AST Research, perusahaan pembuat komputer pribadi asal Amerika Serikat (AS). Untuk akuisisi itu, Samsung harus mengucurkan dana hingga USD378 juta pada Februari 1995. Akuisisi ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan riset dan pengembangan Samsung. 

Keseriusan untuk riset dan pengembangan ini juga diwujudkan dengan membangun 24 pusat R&D di penjuru dunia. Menurut data dari Booz & Co dalam laporan bertajuk the 2012 Global Innovation 1.000, belanja riset dan pengembangan Samsung pada tahun lalu mencapai USD9 miliar. Jumlah tersebut mengalahkan Apple yang hanya USD2,4 miliar. Besarnya dana riset Samsung itu sama dengan yang dikucurkan Microsoft.   

Dari semua pusat riset itulah, Samsung menciptakan produk-produk yang terdepan dan diminati konsumen dunia. Wajar jika kemudian perusahaan itu berhasil menawarkan smartphone yang sulit ditolak konsumen.

Strategi lain yang dilakukan Samsung ialah dengan menjadi sponsor berbagai event olahraga. Puncaknya, Samsung Electronics menjadi sponsor resmi Olimpiade Musim Dingin 1998 di Nagano, Jepang.

Samsung juga berupaya fokus pada bisnis inti. Karena itu, mereka menjual divisi peralatan listrik ke Fairchild Semiconductor Corporation senilai USD455 juta pada Desember 1998.   

Strategi ekspansi juga dilakukan Samsung. Perusahaan itu membangun pabrik di Portugal pada 1982. Ekspansi ini terus digenjot dengan membangun pabrik di New York, Amerika Serikat (AS) pada 1984; sebuah pabrik di Tokyo, Jepang pada 1985; di Inggris pada 1987; dan di Austin pada 1996. Samsung tidak main-main dalam berinvestasi di Austin, Texas, AS.

Perusahaan itu bahkan menginvestasikan lebih dari USD13 miliar di Austin pada 2012. Besarnya investasi itu menjadikan Austin menjadikan Samsung sebagai investor asing terbesar di Texas dan salah satu investor asing tunggal terbesar di AS. Fasilitas di Austin itu beroperasi dengan nama Samsung Austin Semiconductor LLC.
  
Buah Sukses
Berbagai strategi dan ekspansi besar-besaran yang dilakukan Samsung sejak 1980-an itu menjadikan perusahaan itu semakin mendunia. Samsung Electronics pun mulai meraih buah kesuksesan strategi mereka pada 2000. Sejak 2000 hingga 2003, Samsung mencatatkan laba lebih tinggi 5% per tahun. Ini merupakan awal kebangkitan Samsung karena saat itu 16 dari 30 perusahaan besar di Korsel harus mengurangi produksi akibat krisis. 

Prestasi Samsung semaking mencengangkan. Pada 2005, Samsung Electronics berhasil mengalahkan pesaing utamanya asal Jepang, Sony. Untuk pertama kali, Samsung menjadi brand paling populer dan terbesar ke-20 di dunia. Samsung Electronics pun meraih gelar sebagai perusahaan teknologi investasi dengan pendapatan terbesar di dunia pada 2009 sebesar USD117,4 miliar. Jumlah tersebut mengalahkan Hewlett-Packard saat itu.

Dengan kemajuan pesat itu, kini perusahaan itu memiliki pabrik perakitan dan jaringan penjualan di 61 negara dengan karyawan mencapai 221.000 orang. Samsung Electronics menjadi pembuat telepon seluler terbesar di dunia berdasarkan unit penjualan pada 2011. Perusahaan ini merupakan pembuat chip semikonduktor terbesar kedua di dunia berdasarkan pendapatannya pada 2011, setelah Intel Corporation.

Tidak hanya itu, Samsung menjadi pembuat televisi terbesar di dunia sejak 2006 dan pembuat panel LCD terbesar di dunia selama delapan tahun berurutan. Samsung menjadi penguasa utama pasar chip memori dan menjadi vendor terbesar smartphone sejak 2011. Samsung juga memperkuat posisinya di pasar komputer tablet dengan meluncurkan Samsung Galaxy Tab berteknologi Android. 

Pada kuartal pertama 2012, Samsung menjadi perusahaan penjual telepon seluler terbesar dunia, mengalahkan Nokia. Samsung berhasil menjual 93,5 juta unit, sedangakn Nokia hanya 82,7 juta unit. Samsung menjadi vendor smartphone terbesar dunia dengan kuatnya penjualan Galaxy SII dan Galaxy Note.

Wajar jika saat ini Samsung memiliki pengaruh kuat dalam pembangunan ekonomi, politik, media, dan budaya Korsel. Perusahaan itu pun dianggap sebagai kekuatan penggerak utama di balik “Keajaiban Sungai Han.” Tentu saja, karena ekspor seluruh grup perusahaan itu mencakup seperlima total eksport Korsel. (syarifudin) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar