Cari di Sini

Jumat, 22 April 2011

AS Kirim Pesawat Pengebom Tanpa Awak di Libya

BENGHAZI- Pemberontak Libya kemarin memuji keputusan Amerika Serikat (AS) mengerahkan pesawat tempur tanpa awak. Mereka berharap kehadiran pesawat itu akan mempercepat kemenangan pemberontak melawan pasukan Muammar Khadafi.

Pengumuman itu muncul bersamaan tibanya Senator John McCain dari Partai Republik untuk berunding dengan kepemimpinan pemberontak Libya.

“Kami sangat senang. Kami harap ini akan mengembalikan kepercayaan rakyat di Misrata,” papar Mustafa Gheriani, juru bicara pemberontak Dewan Nasional Transisional di Benghazi, seperti dikutip kantor berita AFP.

Wilayah Misrata, Libya barat, dikepung pasukan Khadafi selama lebih darienam pekan. Pertempuran di sana menewaskan lebih dari ratusan orang. Pemberontak Libya yang lusa kemarin menguasai satu pos di perbatasan Tunisia merayakan kemajuan pertama mereka. Tapi mereka mengeluhkan warga sipil yang tewas di Misrata.

“Rumah-rumah kami dihujani bom dan roket. Kami ingin aliansi menghentikan pasukan Khadafi menguasai kota,” papar Ibrahim Issa Abu Hajjar, 45, yang pergi dari Misrata bersama ratusan warga sipil dengan naik sebuah kapal Turki yang berlabuh di Benghazi pada kamis (21/4).

“Presiden AS Barack Obama memerintahkan pengerahan pesawat tanpa awak yang membawa rudal di atas Libya karena situasi kemanusiaan,” papar Menteri Pertahanan AS Robert Gates.

Pesawat tanpa awak itu akan memberi kemampuan presisi pada NATO untuk menargetkan sejumlah serangan. “Kini Anda berada di garis yang bercampur, sehingga sangat sulit membedakan teman dari lawan. Pesawat tanpa awak seperti Predator ini dapat terbang rendah dan menandai sejumlah titik strategis,” kata wakil Kepala Staf Gabungan AS Jenderal James Cartwright. Pengerahan pertama pesawat canggih itu sempat tertunda karena cuaca buruk.

Deputi Menteri Luar Negeri (menlu) Libya Khaled Kaim mengecam pengerahan pesawat tanpa awak tersebut. “Mereka akan membunuh lebih banyak warga sipil. Ini sangat menyedihkan. Mereka mengklaim mendukung demokrasi, tapi mendukung demokrasi, saya pikir, membantu orang untuk duduk bersama dan bicara bersama, serta memiliki dialog serius untuk masa depan,” tegasnya.

“Hak rakyat Libya untuk memutuskan masa depan mereka, bukan oleh serangan udara dan mengirim uang pada pemberontak,” ujar Kaim.

McCain yang menjadi pelobi keterlibatan besar AS dalam kampanye udara NATO di Libya, tiba di Benghazi kemarin. Dia disambut banyak orang saat mengunjungi kantor pusat pemberontak di pusat kota Benghazi. Sekitar 50 orang berteriak, “Libya bebas, Khadafi pergi, terima kasih Amerika, terima kasih Obama.”

McCain merupakan politisi AS paling terkenal yang mengunjungi Benghazi sejak pemberontakan melawan Khadafi terjadi pada pertengahan Februari. McCain diperkirakan menggelar pembicaraan dengan para pemimpin TNC.

Saat ini pemberontak dipukul mundur oleh pasukan pemerintah Libya dalam tiga pekan terakhir di timur Libya. Pemberontak juga mengalami banyak kekalahan di Misrata. Pemberontak di Misrata terus meminta bantuan militer asing karena menurut mereka, serangan udara NATO tidak cukup mengusir pasukan Khadafi yang bersembunyi di wilayah sipil dan bertempur di jalanan.

Prancis, Italia, dan Inggris telah mengirim personil militer ke Libya timur. Tapi mereka hanya memberikan saran pada pemberontak tentang teknik, logistik, dan masalah organisasional, bukan melakukan pertempuran.

TNC menekankan, pemberontak tidak ingin pasukan asing bertempur bersama mereka. “Kami hanya menerima bantuan militer untuk menciptakan jalur aman pengiriman bantuan kemanusiaan dan menyelamatkan nyawa warga sipil,” ujar juru bicara TNC.

Di Benghazi, beberapa orang memberi penghormatan pada mendiang Tim Hetherington dan Chris Hondros, dua fotografer perang peraih penghargaan yang tewas di Misrata pada Rabu (20/4). Sebanyak 30 orang, termasuk jurnalis, diplomat, perwakilan badan bantuan dan pemberontak, berkumpul di Hotel Tibesti dengan menyalakan lilin di tangan segera setelah jasad keduanya tiba di kapal feri di kota pelabuhan.

Kedua fotografer itu tewas dalam serangan mortir saat meliput pertempuran sengit di Misrata, sepanjang Jalan Tripoli. (syarifudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar