Cari di Sini

Kamis, 07 April 2011

AS Tak Gubris Surat Khadafi

WASHINGTON- Gedung Putih tidak menggubris surat dari Pemimpin Libya Muammar Khadafi pada Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama. Paman Sam mengulangi desakan agar Khadafi menyetujui gencatan senjata dan menyerahkan kekuasaan.

“Saya pikir tidak ada misteri apa pun tentang apa yang diharapkan dari Khadafi saat ini. Saya pikir Khadafi tahu bahwa dia harus pergi, perlu ada gencatan senjata di sana, pasukannya perlu mundur dari kota-kota yang dikontrolnya hingga mengakibatkan kekerasan dan hilangnya nyawa manusia,” tutur Menteri Luar Negeri (menlu) AS Hillary Clinton, seperti dikutip kantor berita AFP.

Hillary menambahkan, “Secepatnya itu terjadi dan pertumpahan darah berakhir, lebih baik bagi semua orang.”

Saat berbicara bersama Menlu Italia Franco Frattini, Hillary menekankan, “Perlu ada keputusan yang dibuat tentang kepergiannya dari kekuasaan, seperti menlu Libya katakan tentang kepergiaannya dari Libya.”

Frattini menjelaskan, AS perlu tahu lebih banyak tentang oposisi, sebelum mengikuti pemimpin Francis, Qatar, dan Italia, dalam mengakui oposisi Dewan Nasional Transisional Libya.

Kantor berita pemerintah Libya, JANA, melaporkan, Khadafi mengirimkan surat pada Obama setelah penarikan sebagian besar pesawat tempur AS dari garis depan misi koalisi di negara kaya minyak tersebut.

“Kami dapat mengonfirmasi bahwa di sana ada sepucuk surat, tentu saja bukan yang pertama kali,” papar juru bicara Gedung Putih Jay Carney, tanpa menjelaskan isi suratnya.

Carney mengatakan, Obama menjelaskan beberapa pekan silam bahwa gencatan senjata di Libya tergantung pada sejumlah aksi dan penghentian kekerasan, bukan kata-kata. “Kata-kata berbeda dibandingkan aksi,” ujarnya.

Washington menunggu laporan dari utusan AS untuk oposisi Libya, Chris Stevens, yang menuju Benghazi, Libya bagian timur pada Selasa silam (5/4). “Dia tentu saja sedang membuat perkiraan sekarang,” kata Carney.

Sementara itu, serangan udara NATO mengenai posisi pemberontak dekat kota minyak Brega kemarin, menewaskan sedikitnya lima oposisi. “Sedikitnya lima orang tewas saat serangan Kamis (7/4),” kata perawat Muhamed Ali.

Petugas medis membawa beberapa seragam yang berlumuran darah dari sebuah ruangan di rumah sakit tersebut. Beberapa pejuang oposisi menangis sambil berlutut di koridor. “Kami berdiri di tank-tank kami dan NATO menembakkan dua roket pada kami. NATO pembohong. Mereka bekerja sama Khadafi,” tegas seorang pemberontak, Salem Mislat.

Wartawan Reuters, Michael Georgy melihat darah berceceran di luar gedung rumah sakit di Ajdabiya, tempat korban terluka dalam serangan itu dirawat. “Ini serangan udara NATO terhadap kami. Kami berada dekat mobil-mobil kami di dekat Brega,” kata Younes Jumaa, pemberontak yang dirawat di rumah sakit.

Ini kedua kalinya dalam sepekan, pemberontak mengecam NATO karena membombardir pejuang oposisi. Pada Sabtu silam (2/4) sebanyak 13 pemberontak tewas dalam serangan udara, tidak jauh dengan serangan kemarin. (syarifudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar