Cari di Sini

Selasa, 26 April 2011

Pertempuran Meluas Sepanjang Perbatasan

PHANOM DONG RAK- Pertempuran antara pasukan Thailand dan Kamboja terus meluas di sepanjang perbatasan, kemarin. Kedua pihak kemarin saling menembakkan roket jarak dekat di dekat candi Preah Vihear yang berumur 900 tahun.

Baku tembak yang telah menewaskan 13 tentara itu kian memanas meski ada tekanan diplomatik agar pertempuran dihentikan. Puluhan ribu warga sipil terpaksa mengungsi keluar dari desa-desa mereka di sepanjang perbatasan.

“Pertempuran terjadi dekat reruntuhan Preah Vihear pada pukul 1.30 siang dan terjadi selama 30 menit. Mereka menembakkan artileri dan mortir, kami membalas,” papar juru bicara (jubir) militer Thailand Kolonel Prawit Hookaew.

Jubir militer Thailand lainnya, Sansern Kaewkamnerd mengatakan bahwa kedua pihak saling menembakkan roket jarak dekat dan senapan di dekat candi Preah Vihear. “Kami mempertahankan konflik ini tetap berada di daerah yang kecil. Konfrontasi ini kesalahpahaman,” tuturnya.

Kamboja menuduh Thailand yang memulai baku tembak dan menggunakan pesawat mata-mata dan gas beracun dalam konflik terbaru. Bangkok menyangkal tuduhan tersebut.
“Jet-jet tempur Thailand menembaki wilayah Kamboja di dkeat candi. Sebuah jet tempur terbang di atas kami dan mulai menembak,” kata jubir pemerintah Kamboja Phay Siphan.

Pertempuran di perbatasan kedua negara terjadi sejak Jumat (22/4) di daerah pegunungan yang berjarak 150 kilometer timur candi Preah Vihear. Tapi kemarin, pertempuran juga terjadi di dekat Preah Vihear. Baku tembak sebelumnya yang terjadi pada 10 Februari di dekat Preah Vihear, menewaskan 10 orang, sehingga Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mendesak gencatan senjata permanen.

Thailand dan Kamboja pada Februari sepakat mengijinkan pengawas dari Indonesia ke wilayah dekat Preah Vihear. Tapi militer Thailand sejak saat itu mengatakan para pengawas tidak disambut dan mereka belum dikirimkan.

“Pemerintah akan mengkaji kebijakan terhadap Kamboja, termasuk perdagangan, pemeriksaan perbatasan, dan kerjasama di semua level, tapi tidak akan memutus hubungan diplomatik,” kata Menlu Thailand Kasit Piromya.

Kasit dijadwalkan berunding dengan Menlu Indonesia Marty Natalegawa yang saat ini menjadi ketua Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) pada Kamis (28/4) di Jakarta.

“Thailand akan memberitahunya bahwa Thailand sepakat untuk pengawas internasional tapi pasukan Kamboja harus ditarik dari Preah Vihear,” ujar jubir pemerintah Thailand Panitan Wattanayagorn.

Thailand mendesak Kamboja untuk perundingan bilateral, tapi Kamboja kemarin menolak desakan itu hingga 7-8 Mei saat KTT ASEAN di Jakarta. “Kami akan menunggu hingga nanti dan kami akan bertemu dan berbicara. Pertemuan dapat dilakukan bilateral dan jika perundingan tentang konflik perbatasan, pihak ketiga harus dilibatkan,” ujar Menteri Informasi Kamboja Khieu Kanharith.

Total korban tewas dalam pertempuran terbaru ialah delapan tentara Kamboja dan lima tentara Thailand, dan tentara Kamboja yang hilang. Korban dapat terus bertambah jika baku tembak terus terjadi.

Direktur rumah sakit Phanom Dong Rak, Thailand, Apisan Boonpradub menjelaskan, 65 tentara Thailand terluka, tapi tidak ada warga sipil yang terluka. “Mayoritas mereka terluka akibat ledakan. Sebagian besar pasien yang sedang dirawat itu terluka dalam pertempuran,” katanya.

Thailand mengatakan, 26.000 warganegaranya dievakuasi dan ditempatkan di 22 lokasi. Tiga distrik yakni Phanom Dong Rak, Kap Choeng dan Prasat dideklarasikan sebagai lokasi darurat. Sedangkan warga Kamboja yang dievakuasi sebanyak 22.000 orang.

Pengadilan Dunia pada 1962 menetapkan bahwa candi Preah Vihear milik Kamboja, tapi kedua negara mengklaim daerah sekitar seluas 4,6 kilometer persegi. Kedua negara terus menempatkan pasukannya di masing-masing sisi perbatasan.

Menteri Luar Negeri (menlu) Amerika Serikat (AS) Hillary Clinton mendesak kedua pihak menahan diri. Menurut Hillary, Paman Sam secara langsung menghubungi para pejabat Thailand dan Kamboja agar kekerasan segera diakhiri.

Konflik antara Thailand dan Kamboja terjadi saat Thailand hendak menggelar pemilihan umum (pemilu) pada Juli mendatang. Kamboja tampaknya memiliki kepentingan untuk perubahan pemerintahan di Thailand.

Deputi Perdana Menteri Thailand Suthep Thaugsuban menepis spekulasi bahwa konflik perbatasan akan menunda pemilu. “Kami sedang menyiapkan pemilu sesuai rencana,” katanya. (syarifudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar