Cari di Sini

Minggu, 24 April 2011

Kamboja dan Thailand Masih Bertempur

PRASAT- Tentara Kamboja dan Thailand kemarin masih baku tembak di hutan perbatasan kedua negara. Konflik bersenjata itu memasuki hari ketiga berturut-turut dan sejauh ini menewaskan 10 orang.

Ribuan warga sipil melarikan diri dari wilayah konflik akibat pertempuran itu. Selama dua bulan terakhir, mereka harus hidup dalam ketegangan permusuhan.

Warga desa di Thailand membangun tenda-tenda di distrik Prasat, Provinsi Surin. Mereka sangat ketakutan sejak baku tembak terjadi di distrik perbatasan Phanom Dong Rak pada Jumat (22/4).

“Awalnya saya pikir ini latihan militer, tapi saat sebuah bom jatuh dekat rumah saya, saya tahu bahwa saya harus lari menyelamatkan diri,” ujar Somjai Lengtamdee, 37, warga desa Baan Khaotoh, seperti dikutip kantor berita AFP. “Saya sangat khawatir dengan tiga anak saya. Kami terpisah dan membutuhkan waktu sepanjang hari untuk menemukan mereka semua. Saya masih merasa tidak aman di kamp ini. Saya hanya dapat berharap perang berakhir segera. Saya sangat takut.”

Pejabat daerah Phanom Dong Rak, Somdee Suebnisai, menjelaskan ada 16 kamp di wilayahnya untuk menampung pengungsi yang berjumlah lebih 18.000 orang. “Jumlah pengungsi diperkirakan meningkat menjadi 20.000 jiwa pada Minggu malam,” tuturnya kemarin.

Bunyi tembakan dan mortar terdengar keras dalam jarak 20 kilometer dari lokasi pertempuran di bagian Kamboja pada kemarin pagi. “Warga dievakuasi ke sekolah-sekolah dan candi-candi yang jauh dari tempat pertempuran,” tutur fotografer AFP.

Enam tentara Kamboja dan empat tentara Thailand tewas sejak pertempuran pecah pada Jumat (22/4). Kedua negara saling tuduh sebagai pihak pertama yang memulai pertempuran. Sejak Februari, ketegangan di perbatasan sekitar candi Preah Vihear, memburuk saat 10 orang tewas dalam baku tembak. Pertempuran kali ini terjadi dekat kumpulan candi yang berjarak 10 kilometer dari Preah Vihear.

Pernyataan dari Kementerian Pertahanan Kamboja menuduh pasukan Thailand menembakan ratusan peluru tajam ke wilayah sipil dan berupaya menduduki candi Ta Moeung di daerah tersebut.

Pejabat militer Thailand yang memberikan pidato kemarin siang, menyangkal tuduhan tersebut. Menurutnya, Kamboja yang pertama kali menembakkan senjata untuk merebut candi-candi di kawasan itu.

“Kami merespon dengan tembakan senapan mesin dan artileri, bukan gas atau invasi ruang udara Kamboja,” tutur juru bicara militer Thailand Sunsern Kaewkumnerd untuk menyangkal tuduhan Kamboja bahwa Negeri Gajah Putih menggunakan gas beracun dan pesawat tempur ke wilayah udara Kamboja.

Thailand baru-baru ini mengakui penggunaan Munisi Konvensional Perbaikan Tujuan Ganda (DPICM) yang didesain untuk meledak menjadi beberapa bom saat pertempuran Februari. Tapi Thailand tidak mengklasifikasikannya sebagai munisi tandan.

Perdana Menteri (PM) Thailand Abhisit Vejjajiva menegaskan, negaranya akan menggelar perundingan bilateral dan menuduh Kamboja berupaya menginternasionalisasi konflik tersebut. Kamboja meminta mediasi asing untuk membantu mengakhiri konflik, tapi Thailand menolak intervensi pihak ketiga.

“Kewajiban seluruh rakyat Thailand untuk membela kedaulatan kami. Kita tidak boleh jatuh dalam jebakan Kamboja yang berupaya menyebarkan gambaran konflik, atau mengatakan bahwa konflik itu tidak terpecahkan melalui perundingan bilateral. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi,” tegas Abhisit.

Pada Februari, kedua negara sepakat mengijinkan pengawas dari Indonesia di wilayah dekat Preah Vihear. Tapi militer Thailand sejak saat itu menyatakan mereka tidak menyambutnya dan pengawas belum dikirimkan.

Indonesia yang memimpin Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) menyerukan agar kedua negara segera mengakhiri kekerasan.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon menyerukan gencatan senjata dan kedua negara harus melakukan dialog serius untuk menyelesaikan konflik.

Hubungan Thailand dan Kamboja memburuk sejak Preah Vihear mendapat status Warisan Dunia dari PBB pada Juli 2008. Pada 1962, Pengadilan Dunia menetapkan bahwa candi yang menjadi simbol arsitektur Khmer itu milik Kamboja, tapi kedua negara mengklaim kepemilikan daerah sekitar candi seluas 4,6 kilometer persegi.

Candi Preah Vihear, Ta Moan, dan Ta Krabey, serta sekitar hutan Pegunungan Dangrek, menjadi daerah konflik sejak penarikan Prancis dari Kamboja pada 1950-an. Thailand menyatakan, Candi Ta Moad dan Ta Krebey abad 12, terletak di Provinsi Surin, berdasarkan peta 1947. Kamboja menolak klaim tersebut dan mengatakan bahwa candi-candi itu terletak di Provinsi Oddar Meanchey. (syarifudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar