Cari di Sini

Selasa, 19 April 2011

Pasukan Suriah Usir Demonstran

DAMASKUS- Pasukan keamanan Suriah kemarin menembaki ribuan demonstran di kota Homs yang hendak menggulingkan pemerintahan. Aksi itu beberapa jam setelah pemerintah bertekad memberangus revolusi bersenjata di negaranya.

Pemerintah Suriah juga mengumumkan, tiga militer dan dua anak-anak tewas terbunuh oleh geng-geng kriminal bersenjata di penjuru kota Homs. Situasi ini kian membuat krisis Suriah semakin memanas.

“Demonstran dibubarkan dengan pasukan. Di sana terjadi baku tembak sengit,” papar seorang aktivis oposisi yang menjelaskan melalui telepon pada kantor berita AFP, kemarin, tanpa bisa memberi keterangan rinci tentang kemungkinan jumlah korban tewas dan terluka.

Menurut aktivis itu, pasukan keamanan menyerbu Lapangan Al-Saa kemarin pagi. Saat itu ada sekitar 20.000 orang demonstran yang menduduki lapangan tersebut. Serbuan itu membuat demonstran kocar-kacir.

Aksi aparat itu hanya beberapa jam setelah pemerintah bertekad memberangus revolusi bersenjata yang dianggap mengacaukan keamanan negara. “Insiden terbaru menunjukkan bahwa kelompok Salafy bersenjata, khususnya di kota-kota Homs dan Bania, secara terbuka menyerukan revolusi bersenjata,” ujar pernyataan Kementerian Dalam Negeri Suriah, yang dikutip kantor berita SANA.

Pemerintah Suriah menuduh kelompok-kelompok itu yang membunuh para tentara, polisi dan warga sipil, serta menyerang fasilitas publik dan swasta. “Aktivitas teroris tidak akan ditoleransi,” ancam pemerintah.

Ribuan demonstran tiba di Lapangan Al-Saa pada Senin (18/4). Mereka mendirikan tenda, sehari setelah 11 orang tewas akibat serangan pasukan keamanan di Homs dan satu kota terdekat, dalam unjuk rasa besar-besaran. Pengunjuk rasa bertekad tetap bertahan hingga Presiden Suriah Bashar al-Assad mundur.

Sementara itu, polisi Yaman menewaskan satu pria dan melukai beberapa orang lainnya, kemarin, saat aparat melepas tembakan ke arah demonstran. “Polisi menembak sembarangan ke arah pengunjuk rasa di distrik Taez, Wadi al-Qadi, yang mendesak agar Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengundurkan diri,” kata saksi mata.

“Beberapa orang menderita luka tembak, termasuk seorang yang hanya lewat. Dia terluka serius akibat tembakan saat berada di dalam mobilnya,” tutur saksi mata. Seorang yang hanya lewat saat demonstrasi terjadi, Talaat Abdullah Ghaleb, tewas akibat lukanya di sebuah rumah sakit di Taez, hanya beberapa jam setelah tertembak.

Koordinir unjuk rasa menjelaskan, ada empat orang, termasuk seorang fotografer surat kabar yang ditahan oleh aparat keamanan. Lebih dari 125 orang tewas dalam demonstrasi yang pecah di penjuru negara itu sejak Januari silam.

Satu delegasi pemerintah Yaman, kemarin, bertemu para menteri luar negeri (menlu) Dewan Kerjasama Teluk (GCC) di Abu Dhabi untuk membahas rencana keluar yang diusulkan blok kaya minyak tersebut. Para menlu GCC pada Minggu (17/4) bertemu delegasi oposisi Yaman di Riyadh untuk membahas rencana pengunduran diri Presiden Saleh.

Sementara itu, Menlu Rusia Sergei Lavrov menuduh mandat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk intervensi di Libya sedang dilanggar oleh mereka yang menginginkan perubahan rezim di sana. Lavrov mendesak agar segera disepakati gencatan senjata.

“Pada mereka yang menggunakan resolusi Dewan Keamanan PBB untuk tujuan perubahan rezim, mereka secara terbuka melanggar mandat yang diberkan oleh PBB,” tegas Lavrov kemarin, setelah berunding dengan Menlu Serbia Vuk Jeremic. “Buruk untuk melihat bagaimana oposisi Libya menolak negosiasi karena posisi beberapa negara barat, tapi sangat penting kita melakukan gencatan senjata.”

Lavrov menegaskan, dukungan barat untuk perubahan rezim di Libya juga mendorong munculnya krisis lain, seperti di Yaman, di mana oposisi berupaya menggulingkan Presiden Saleh. “Mungkin terinspirasi sikap itu, oposisi di Yaman menolak bernegosiasi dan mengharap bantuan dari asing. Ini logika berbahaya yang dapat menciptakan rantai reaksi,” ujarnya.

NATO kemarin menggencarkan serangan udara di ibukota Libya, Tripoli, dan kota kelahiran Muammar Khadafi, Sirte, serta kota Aziziyah, selatan Tripoli. “Tripoli dan Sirte menjadi target serangan agresi kolonialis pada Selasa (19/4),” papar kantor berita JANA.

JANA juga mengungkapkan, agresi NATO juga menargetkan wilayah Al-Hira dan kota Aziziyah, 50 kilometer selatan Tripoli. Deputi Menlu Libya Khaled Kaim menjelaskan, serangan NATO pada Senin (18/4) menargetkan infrastruktur telekomunikasi seluler di utara Sirte. (syarifudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar