Cari di Sini

Senin, 02 Januari 2012

Antara Sanksi dan Selat Hormuz

Ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz menaikkan suhu politik Timur Tengah. Wakil Presiden Iran Reza Rahimi mengancam Teheran akan menutup selat itu jika Barat menerapkan sanksi terhadap eksport minyak Iran. Komandan angkatan laut (AL) Iran Laksamana Habibollah Sayari juga menyatakan, menutup Selat Hormuz lebih mudah daripada minum segelas air. Menanggapi ancaman tersebut, Amerika Serikat (AS) menyatakan tidak segan bertindak tegas untuk menghadapi tindakan Iran tersebut. Pentagon kemudian mengirim satu kapal induk dan satu kapal yang dilengkapi rudal jelajah untuk melintas Selat Hormuz, di dalam zona latihan perang AL Iran. AS berdalih keberadaan dua kapal perang di Selat Hormuz hanyalah tugas rutin untuk memberi dukungan udara pada perang di Afghanistan. Tapi pengamat menilai tindakan itu dilakukan AS untuk menunjukkan bahwa Washington tidak gentar dengan ancaman Iran dan jika perlu melancarkan peperangan terbuka di selat tersebut. Pertempuran kecil pernah terjadi saat AL AS menenggelamkan kapal-kapal perang Iran. Pasukan maritim Garda Revolusi Iran memiliki satu armada yang cukup besar yang terdiri atas kapal-kapal kecil dan cepat untuk melakukan serangan terhadap kapal perang AS. Pada Juli 1988, sebanyak 300 orang tewas ketika satu kapal penjelajah AS menembak jatuh satu pesawat Iran Air karena salah identifikasi. AS mengira pesawat itu hendak menyerang. AS kemudian meminta maaf dan memabayar kompensasi. Dalam konflik terbaru di Selat Hormuz, kedua negara saling ancam sehingga harga minyak naik hingga 2% dalam beberapa hari terakhir. Lantas apa yang akan terjadi selanjutnya? Tidak diragukan lagi bahwa selat itu memiliki nilai strategis sebagai “chokepoint” maritim. Selat itu benar-benar chokepoint karena bentuknya menyempit. Selat itu hanya memiliki lebar 54 kilometer. Memang terdengar besar, tapi saat Anda mengemudikan satu kapal super-tanker Anda perlu memperhatikan jalur yang aman dengan seksama, mengubah arah beberapa kali, dan bergerak dengan hati-hati. Mayoritas minyak milik Irak dan Arab Saudi melintasi selat tersebut, demikian juga semua minyak dari negara-negara Teluk yang lebih kecil seperti Kuwait, Qatar, dan Uni Emirat Arab. Totalnya 35% minyak dunia berasal dari Teluk. Sementara, 90% minyak dari Teluk Persia melintasi selat tersebut untuk tujuan ke Asia dan Eropa. Tentu saja, menutup jalur perairan itu akan memiliki dampak besar bagi perekonomian dunia. Tapi, di sini ada poin utama lainnya, yakni semua eksport minyak Iran juga melintasi selat tersebut. Minyak merupakan satu-satunya eksport utama Iran dan hanya minyaklah yang menggerakkan roda perekonomian mereka. Jelas tidak bisa dibayangkan bahwa Iran akan menutup selat tersebut, kecuali Teheran juga akan menghadapi kematian ekonominya sendiri. Karena itulah, semua bentuk sanksi yang melarang penjualan minyak Iran akan langsung mengancam stabilitas ekonominya. Beberapa pengamat yakin, Iran tidak akan pernah menutup selat tersebut, apapun juga retorika dan ancaman yang dilontarkan Teheran. Ancaman Iran untuk menutup selat Hormuz dapat diartikan sebagai pesan agar Barat tidak terlalu jauh menekan Teheran atau ekonomi dunia akan menderita. “Iran merasa perlu menyatakan ancaman menutup selat itu sebagai pesan yang tepat saat ini, baik dalam kerangka domestik atau diplomatik,” ujar Peter Jones, associate professor di Graduate School of Public and International Affairs, University of Ottawa. Secara domestik, pemerintah dan rakyat Iran sudah merasakan tekanan dari berbagai sanksi internasional. Mereka juga mulai khawatir dengan berbagai kampanye terselubung yang dilancarkan Barat terhadap Iran. Misalnya berbagai virus komputer yang disebarkan di program nuklir Iran, pembunuhan yang menargetkan pakar-pakar nuklir, dan tertangkapnya sebuah pesawat mata-mata tanpa awak milik AS oleh Iran. Berbagai hal tersebut jelas menimbulkan kekhawatiran di dalam negeri Iran. Di kancah diplomatik, Iran mengirim sebuah pesan, tidak terlalu fokus pada AS, tapi pada semua negara yang tergantung dengan suplai minyak dari Teluk untuk membuat perekonomian mereka tetap berjalan. China, Jepang, dan India masuk dalam kategori ini. Berbagai alasan itulah yang tampaknya termanifestasi dalam bahasa sederhana yang dikirimkan Iran pada komunitas internasional, yakni menutup Selat Hormuz. Namun fakta juga menunjukkan bahwa Iran juga merasakan tekanan akibat berbagai sanksi internasional. Sanksi-sanksi itu jelas berdampak dan Iran khawatir akan ada lebih banyak sanksi yang diterapkan. Iran Bukan Ancaman AS Ancaman penutupan Selat Hormuz oleh Iran hanyalah sebagian kecil dari kekhawatiran yang dirasakan sejumlah negara. Barat juga khawatir dengan program nuklir Iran. Barat menuduh Iran mengembangkan persenjataan nuklir, tapi tuduhan itu disangkal berkali-kali oleh Teheran. Iran menyatakan program nuklirnya bertujuan damai untuk menghasilkan energi. Jika berbagai pihak khawatir dengan program nuklir Iran, anggota Kongres AS dari Texas Ron Paul justru tenang-tenang saja. Paul bahkan menyatakan tidak akan melancarkan serangan militer preemptive ke Iran karena Teheran tidak mengancam keamanan nasional AS. “Jika beberapa negara lain berpikir mereka akan berperang melawan Iran, itu urusan mereka. Tidak ada bukti Iran membangun senjata nuklir,” tegas politisi dari Partai Republik itu pekan ini. “Iran bahkan tidak dapat memproduksi cukup bensin untuk mobil-mobil mereka.” Laporan terbaru Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menuduh Iran mengembangkan riset senjata nuklir. Menteri Pertahanan AS Leon Panetta juga menyatakan, Iran memiliki waktu setahun atau lebih cepat, sebelum dapat memiliki senjata nuklir. Namun sikap Paul jelas sangat berbeda dengan para politisi di Negeri Paman Sam. Dengan keberadaan Israel sebagai satu-satunya negara bersenjata nuklir di Timur Tengah, Paul mengungkapkan, “Jika saya rakyat Iran, saya ingin memiliki senjata nuklir juga, karena Anda mendapat penghormatan dari itu.” Paul merupakan salah satu kandidat presiden Republik. Paul berada di urutan kedua di antara para pemilih Iowa dalam poling terbaru yang dilakukan NBC News-Marist University. Paul mendapatkan 21% sedangkan Mitt Romney memperoleh 23%. Paul menuturkan bahwa sanksi-sanksi Barat terhadap Iran merupakan “pernyataan perang” yang tampaknya akan memicu perang sebenarnya di Timur Tengah. Menurut Paul, Iran mendapat alasan untuk memblokade jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz. Dia membandingkan sanksi-sanksi barat itu dengan kemungkinan langkah China untuk memblokade Teluk Meksiko yang bagi AS akan dianggap sebagai pernyataan perang. Dia menyatakan tidak akan merespon secara militer untuk menjaga selat itu tetap terbuka, karena dia menganggap tindakan Iran itu sebagai pernyataan perang terhadap AS. Tapi jika dia menjadi presiden AS, dia akan melaporkan ke Kongres tentang masalah tersebut, terserah pada anggota parlemen untuk mendeklarasikan perang jika mereka mau. “Saya pikir kita mencari masalah karena kita menerapkan sanksi-sanksi menghebohkan terhadap Iran. Jika Anda ingin menenangkan (Iran) ini, jangan berikan sanksi terhadap mereka karena hanya akan menyebabkan lebih banyak masalah,” ujar Paul saat kampanye di Hotel Pattee, Perry, Iowa pada 29 Desember, dikutip Los Angeles Times. “Blokade Iran akan menjadi respon paling memungkinkan terhadap berbagai sanksi karena Iran tidak memiliki senjata penghancur massal. Menutup selat itu merupakan tindakan yang paling mungkin,” kata Paul. “Solusi ketegangan dengan Iran saat ini ialah memikirkan kembali urusan AS sendiri dan tidak melontarkan ancaman perang lagi.” Masa Depan Harga Minyak Harga minyak mentah di masa depan akan sangat tergantung pada berbagai perkembangan di Eropa, Iran, serta potensi resiko terhadap permintaan minyak global. Minyak mentah untuk pengiriman Februari berada pada harga USD98,83 per barrel di New York Mercantile Exchange yang ditutup Jumat (30/12). Pada Kamis (29/12), harga minyak mentah naik karena para pasar mengkhawatirkan ancaman Iran menutup Selat Hormuz dan resikonya terhadap suplai global. “Saat kita memasuki tahun baru, pasar dipenuhi banyak kekhawatiran, tapi di waktu yang sama pada 2012 juga dapat menjadi salah satu sejarah menjanjikan,” ujar Phil Flynn, wakil presiden PFG Best pada MarketWatch. “Untuk energi, 2012 akan mencerminkan yang terbaik dan terburuk tentang apa yang dunia tawarkan. Kita tampaknya akan melihat peningkatan harga terbesar per tahun untuk minyak, seperti yang kita lihat sejak 2008,” papar Flynn. “Pada 2012, harga minyak dapat naik setinggi USD110 dan terendah USD85 per barrel.” Tapi jika terjadi konflik dengan Iran, harga dapat naik hingga USD127 per barrel dan jika kondisi tetap tenang, akan turun hingga USD85 per barrel. Harga minyak pada 2012 dapat naik hingga 16%, sedangkan bensin dapat naik 11%. (syarifudin)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar