Cari di Sini

Jumat, 13 Januari 2012

Serangan Militer AS di Iran Berbahaya

MOSKOW– Rusia memperingatkan bahwa eskalasi militer di Iran dengan potensi serangan Amerika Serikat (AS) merupakan kondisi sangat berbahaya. Pernyataan itu diungkapkan sekretaris Dewan Keamanan Rusia Nikolai Patrushev dalam wawancara yang diterbitkan harian Kommersant kemarin. Menurutnya, Suriah yang menolak memutus hubungan dengan Teheran juga bisa menjadi target intervensi Barat. “Ada kecenderungan eskalasi militer dalam konflik tersebut dan Israel mendorong Amerika Serikat (AS) menuju ke sana. Ada satu bahaya nyata serangan militer AS di Iran,” papar Patrushev, dikutip AFP. “Saat ini AS melihat Iran sebagai masalah utamanya.Mereka mencoba mengubah Teheran dari seorang musuh menjadi mitra pendukung, dan untuk mencapai ini,perlu perubahan rezim saat ini dengan cara apa pun.” Patrushev menambahkan, “Mereka menggunakan embargo ekonomi dan pertolongan masif pada kekuatan oposisi.” “Selama bertahun-tahun kami telah mendengar bahwa secara praktis pekan depan Iran sedang menciptakan sebuah bom atom,tapi tetap saja tak seorang pun dapat membuktikan eksistensi komponen militer dalam program nuklir Iran,”ujar Patrushev. Iran kemarin menyatakan memiliki bukti kuat bahwa pihak asing menjadi dalang pembunuhan pakar-pakar nuklir Iran.Teheran mendesak Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa- Bangsa (DK PBB) mengecam aksi pembunuhan tersebut. Menurut Patrushev, ketegangan di Suriah terkait isu Iran.“Mereka menghukum Damaskus bukan karena kekerasan terhadap oposisi,melainkan karena Suriah menolak memutus hubungan dengan Teheran,” katanya. “Ada informasi bahwa anggota NATO dan beberapa negara Arab di Teluk Persia bertindak sesuai skenario yang terjadi di Libya untuk mengubah intervensi saat ini menjadi intervensi militer secara langsung.” Untuk intervensi militer tersebut,pejabat Rusia mengatakan, “Pasukan penyerang utama akan disuplai tidak dari Prancis,Inggris,dan Italia,tapi mungkin oleh negara tetangga, Turki.Washington dan Ankara mungkin telah membuat rencana untuk zona larangan terbang sehingga memungkinkan unit-unit pemberontak bersenjata di Suriah dapat memperkuat diri. ”Washington menyatakan akan mengurangi jumlah stafnya di Kedutaan Besar AS di Damaskus karena khawatir dengan keamanan mereka. Sementara itu, Presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad bertemu Presiden Kuba Raul Castro kemarin. Sebelumnya dia berpidato di Kampus Universitas Havana dan menyatakan Iran dihukum tanpa alasan yang bagus.“Pernahkah kami menyerang seseorang? Apakah kami menginginkan lebih dari yang seharusnya kami miliki? Tidak pernah.Kami hanya meminta untuk bicara tentang itu dan menegakkan keadilan,” papar Ahmadinejad, dikutip Reuters. Kuba merupakan pemberhentian ketiga dalam lawatan Ahmadinejad di Amerika Latin setelah mengunjungi Venezuela dan Nikaragua.Ahmadinejad akan mengunjungi Ekuador sebagai tujuan akhir perjalanannya. Sementara media Iran kemarin menyerukan pembalasan atas pembunuhan terhadap pakar nuklir Mostafa Ahmadi Roshan,32.Menurut harian garis keras Keyhan,pembunuhan terhadap pejabat dan militer Israel dapat dilakukan. “Republik Islam telah mengumpulkan banyak pengalaman dalam 32 tahun sehingga pembunuhan terhadap pejabat Israel dan personel militer mereka dapat dilaksanakan,” tulis Keyhan. Mostafa merupakan pakar dan deputi direktur fasilitas pengayaan uranium Natanz, Iran, yang tewas saat dua pengendara sepeda motor menyalip mobil Mostafa yang terjebak kemacetan lalu lintas.Kedua pengendara sepeda motor itu kemudian memasukkan sebuah bom magnet dalam mobil Mostafa yang langsung meledak di dalam mobil tersebut. Ledakan bom itu menewaskan Mostafa, sopir, dan pengawalnya. Penumpang ketiga mobil Peugeot 405 itu hanya terluka. Serangan semacam itu pernah dialami empat pakar nuklir lainnya di Teheran dalam dua tahun terakhir.Tiga pakar nuklir bekerja di program nuklir Iran tewas akibat serangan bom,sedangkan seorang pakar nuklir lainnya berhasil selamat karena keluar dari mobilnya beberapa saat sebelum mobil itu meledak. “Satu-satunya cara untuk menghentikan aksi-aksi musuh ini ialah membalasnya.Tindakan ini legal menurut hukum internasional untuk membalas atas tindakan pembunuhan pakar- pakar nuklir,” tulis harian Resalatkemarin. Sementara itu, Menteri Keuangan Jepang Jun Azumi menyatakan akan mengambil langkah nyata mengurangi ketergantungan minyak pada Iran. Pernyataan itu muncul setelah dia bertemu Menteri Keuangan AS Timothy Geithner di Tokyo.Geithner mencari dukungan China dan Jepang untuk sanksi lebih keras terhadap industri minyak Iran. “Dalam lima tahun terakhir, kami telah mengurangi jumlah minyak yang diimpor dari Iran.Kami berharap dapat melaksanakan langkah nyata dan terencana untuk mengurangi lebih banyak impor minyak dari Iran yang saat ini mencapai 10%,” papar Azumi dalam konferensi pers bersama Geithner, dikutip Reuters. Jepang merupakan konsumen terbesar kedua minyak Iran. syarifudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar