Cari di Sini

Senin, 30 Januari 2012

Presiden Yaman Dirawat di AS

NEW YORK - Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh kemarin tiba di Amerika Serikat (AS) untuk menerima perawatan medis akibat luka-luka yang dideritanya saat upaya pembunuhan terhadapnya.

Dia meninggalkan Yaman, pekan lalu, setelah mengesahkan undang-undang yang memberinya kekebalan hukum dari pengadilan. Saleh juga telah mengucapkan pidato perpisahan yang disiarkan televisi. Saleh menuju AS dari Oman dan Inggris, setelah mendapat izin dari AS untuk berkunjung. “Presiden Saleh tiba malam ini di AS untuk kunjungan medis pribadi jangka pendek,”papar juru bicara Kedutaan Besar (kedubes) Yaman di AS Mohammed Albasha,dikutip AFP. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) AS mengonfirmasi kedatangannya.

Pejabat AS pertama kali mengumumkan pada Desember bahwa Saleh ingin ke Negeri Paman Sam untuk perawatan luka-lukanya akibat serangan bom. Pemimpin Yaman berusia 69 tahun itu mengalami luka parah dalam serangan di sebuah masjid dalam kompleks istana kepresidenan pada 3 Juni silam. Saleh menghabiskan waktu beberapa bulan untuk perawatan medis di Arab Saudi dan banyak rakyat Yaman yang yakin kepergiannya itu akan permanen. Namun, dia kembali ke Yaman dan tetap memegang kekuasaan. Tindakan itu makin meningkatkan unjuk rasa melawan pemerintahannya.

Saleh menyerahkan kekuasaan pada wakilnya Abd-Rabbu Mansour Hadi pada November, dalam kesepakatan yang dimediasi negara-negara Teluk Arab untuk mengakhiri kekerasan. Namun dia tetap menjadi tokoh utama hingga pemilu presiden yang digelar 21 Februari untuk memilih penggantinya. AS mendesak Saleh meninggalkan Yaman hingga pemilu selesai.Namun, Saleh tampaknya berharap dapat kembali ke negaranya sebelum pemilu. Menurut pengamat, kunjungan Saleh ke New York sangat sensitif bagi AS.

Pemimpin Yaman selama ini merupakan aliansi dekat Washington dalam perang melawan terorisme. Tapi pejabat AS tidak ingin dianggap sebagai pelindung seorang otokrat.Menurut AS, kunjungan Saleh memiliki tujuan pribadi dan untuk periode terbatas. Sementara, demonstran di Yaman marah karena Saleh mendapatkan kekebalan dari tuntutan pengadilan.Pengunjuk rasa ingin menyeret Saleh ke pengadilan atas berbagai tindakan pelanggaran, termasuk pembunuhan terhadap demonstran. Namun undang-undang itu hanya memberi kekebalan terbatas pada pejabat pemerintahan dan militer yang menjabat bersama Saleh.Mereka tetap dapat didakwa untuk berbagai tindakan terorisme atau korupsi.

Ratusan orang tewas dalam satu tahun unjuk rasa menentang 33 tahun kekuasaan Saleh. Gerakan unjuk rasa di Yaman terinspirasi oleh revolusi yang berhasil menggulingkan pemimpin Tunisia, Mesir, dan Libya. Tidaksepertitindakanuntuk menggulingkan rezim Muammar Khadafi, Barat tidak bersikap terlalu keras terhadap Saleh karena Yaman berbeda dengan Libya.

Negara-negara Barat dan Teluk Arab khawatir kerusuhan di Yaman dapat memberi peluang bagi Al Qaeda untuk menguatkan pengaruh di wilayah- wilayah pinggiran yang tidak terkontrol pemerintah pusat. syarifudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar