Cari di Sini

Rabu, 08 Februari 2012

Obama Terapkan Sanksi Baru Iran

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama mengesahkan sanksi baru terhadap Bank Sentral Iran kemarin. Negeri Mullah mengecam langkah tersebut.

Keputusan baru Obama itu semakin meningkatkan tekanan terhadap Negeri Mullah tersebut. Namun,banyak pihak tetap meragukan bahwa berbagai sanksi itu dapat menghentikan program nuklir Iran saat ini. “Saya telah menetapkan bahwa sanksi-sanksi tambahan itu terjamin,khususnya terhadap berbagai praktik Bank Sentral Iran dan bank-bank Iran lainnya, hingga pada semua pihak yang melakukan transaksi tersembunyi,” tulis Obama dalam pesan yang disampaikan untuk Kongres AS, dikutip AFP.

Obama juga menyatakan berbagai aktivitas Iran dapat membahayakan sistem finansial internasional. Sebelumnya, dalam wawancara dengan NBC, Obama berupaya meredam kekhawatiran tentang kemungkinan serangan Israel ke Iran.Obama mengatakan tidak berpikir keputusan semacam itu telah diambil rezim Zionis karena dapat memicu perang baru di Timur Tengah.

Berbagai sanksi yang ditandatangani Obama menjadi undang-undang baru pada Minggu (5/2) akan memblokir semua properti dan kepentingan pemerintah Iran, Bank Sentral Iran (CBI), dan seluruh institusi keuangan Iran dalam yurisdiksi AS. Sebelumnya, semua institusi AS diharuskan menolak berbagai transaksi dengan sistem keuangan Iran. Iran kemarin mengecam sanksi baru AS tersebut.

Teheran menegaskan bahwa berbagai sanksi itu tidak akan berdampak. Sebagai bentuk balasan, parlemen Iran menyatakan mereka mempercepat pengesahan draf undang-undang yang melarang ekspor minyak Iran ke Uni Eropa (UE), sebelum keputusan blok itu untuk melarang impor minyak Teheran diberlakukan sepenuhnya. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Iran Ramin Mehmanparast menganggap berbagai sanksi itu akan gagal.

“Ini perang psikologis yang tidak berdampak. Tidak ada yang baru. Ini telah terjadi selama lebih dari 30 tahun,” tegasnya,menyebut tiga dekade permusuhan Washington- Teheran. Ketegangan Iran dan Barat meningkat bulan lalu, saat Washington dan UE mengambil keputusan untuk melumpuhkan sektor minyak Teheran untuk memaksa Negeri Mullah menghentikan program nuklirnya.

Iran menegaskan, setelah UE menyetujui embargo minyak Iran pada 23 Januari, Teheran akan melawan sanksi itu dengan sanksi dari Negeri Mullah. Parlemen Iran pada 30 Januari menunda membahas ide pelarangan penjualan minyak mentah ke UE. Namun, langkah terbaru AS kini memprovokasi parlemen Iran untuk mempercepat pengesahan draf undang- undang untuk melarang ekspor minyak Iran ke beberapa negara UE, sebelum blok Eropa itu melaksanakan embargo minyak Iran pada Juli mendatang.

“Untuk membalas langkah UE yang didukung Zionis Israel untuk melarang minyak Iran, kami siap memberlakukan larangan ekspor minyak ke beberapa negara Eropa,”papar anggota parlemen Iran Mohammad Javad Karimi-Qoddusi,dikutip kantor berita Fars. “Draf undang-undang itu hampir selesai. Draf itu akan mengharuskan pemerintah segera menghentikan ekspor minyak ke UE.

Draf itu juga akan melarang impor berbagai barang dari UE.Mayoritas anggota parlemen mendukung draf penting tersebut,” kata anggota parlemen Iran Parviz Sarvari. Dia tidak menyebut tanggal untuk voting draf undang- undang tersebut. Mehmanparast menekankan bahwa pemerintah Iran tidak akan menghentikan program nuklirnya meskipun ada sanksi internasional.

Iran menegaskan bahwa mereka membutuhkan teknologi nuklir untuk menghasilkan listrik dan tidak untuk membuat senjata atom. “Sanksi-sanksi itu tidak akan memiliki dampak apa pun pada program nuklir kami dan Barat tidak akan mencapai tujuannya. Sejarah kami menunjukkan bahwa sanksisanksi yang seluruhnya tidak logis itu telah mempercepat perkembangan bangsa kami,” papar Mehmanparast, dikutip kantor berita Reuters.

Mehmanparast menjelaskan, Iran tidak memiliki transaksi keuangan apa pun dengan AS sehingga sanksi baru itu akan sia-sia. Menurutnya, Iran akan segera mengirim surat kepada Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Catherine Ashton tentang menghidupkan lagi perundingan dengan kekuatan utama. “Iran selalu menyambut perundingan konstruktif dan produktif, tapi kami selalu mengatakan bahwa hak nuklir kami tidak dapat dinegosiasikan,”ungkapnya.

Perundingan nuklir Iran pada Januari 2010 gagal, karena Teheran menolak menghentikan aktivitas pengayaan uranium seperti diinginkan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa dan enam kekuatan dunia.

AS dan Israel menyatakan tidak menutup kemungkinan serangan militer jika penyelesaian diplomatis gagal menghentikan program nuklir Iran. Teheran pun memperingatkan akan membalas semua serangan militer asing dengan menutup Selat Hormuz. syarifudin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar